Selasa, 23 Juni 2015

Laporan tanam pola tanam dan pemulsaan



BAB I

PEDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Tanam merupakan kegiatan menempatkan bahan tanam baik berupa benih maupun bibit pada media tanam berupa tanah ataupun bukan tanah dalam suatu pola tanam. Sedangkan pola tanam memiliki arti penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan letak dan tata urutan tanaman selama periode tertentu.
Dalam usaha pertanian yang efektif, tanam dan pola tanam sangat diperlukan. Tanam dan pola tanam yang berbeda dapat menentukan tingkat produksi dalam kualitas mapun kuantitas. Ada banyak jenis pola tanam dalam dunia pertanian. Ada yang menguntungkan namun ada juga yang manfaatnya kurang dirasakan bagi pengguna. Oleh karena itu perlu diketahui berbagai macam pola tanam yang diterapkan pada tanaman budidaya. Sehingga kita dapat memaksimalkan penggunaannya pada lahan berdasarkan kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan.
Selain melakukan tanam dan pola tanam yang baik, pemberian mulsa juga perlu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal yang nantinya mampu meningatkan kualitas dan kuantitas pada lahan dan tanaman yang dibudidayakan. Mulsa adalah proses atau praktek untuk membuat lebih pada kondisi yang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, perkembangannya. Tujuan dari pemberian mulsa ini adalah melindungi agregat tanah dari percikan air hujan, menekan pertumbuhan gulma pada sekitar tanaman budidaya, dan masih banyak lagi tujun dari mulsa ini.
Jadi, dalam membudidayakan tanaman budidaya perlu diperhatikan tanam, pola tanam dan pemerian mulsa untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari tanaman budidaya nya.

1.2              Tujuan

1.      Mengetahui dan memahami cara aplikasi dan manfaat penggunaan mulsa
2.      Memahami pengaturan tanam monokultur dan tumpangsari dalam budidaya tanaman.
3.      Untuk konservasi lahan

1.3              Manfaat

Agar praktikan lebih mengetahui dan memahami tentang pola tanam monokultur dan tumpangsari serta manfaat pemberian mulsa bagi tanaman.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1              Pengertian Tanam

Menurut (Vincent,1996)Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam.Sedangkan menurut (Setjanata,1983) Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam.

2.2              Pengertian Pola Tanam

Menurut (Campbell,2002) pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa baru atau tidak ditanam selama periode tertentu.

2.3              Pengertian Pola Tanam Monokultur dan Tumpangasari

Menurut (Setjanata,1983) pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Sedangkan pengertian pola tanam tumpangsari menurut (Semeru,1995) merupakan salah satu jenis pola tanam yang termasuk jenis polikultur. Polikultur adalah penanaman serentak dua jenis tanaman atau lebih dalam barisan berseling-seling pada sebidang tanah.

2.4              Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Tanam

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola tanam menurut (Setjanata, 1983), yaitu :
1.      Iklim
Dimana pada keadaan musim hujan dan kemarau akan berpengaruh pada persediaan air untuk tanaman dimana pada msim hujan maka persediaan air untuk tanaman berada dalam jumlah yang besar, sebaliknya pada musim kemarau persediaan air akan menurun.
2.      Topografi
Merupakan letak atau ketinggian lahan dari permukaan air laut yang berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban udara dimana keduanya mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
3.      Debit Air yang Tersedia
Dimana debit air pada musim hujan akan lebih besar dibandingkan pada musim kemarau, sehingga haruslah diperhitungkan apakah debit saat itu mencukupi jika akan ditanam suatu jenis tanaman tertentu.
4.      Jenis tanah
Jenis tanah yaitu tentang keadaan fisik , bioligis dan kimia tanaman.
5.      Sosial ekonomi
Dalam usaha pertanian faktor ini merupakan faktor yang sulit untuk dirubah sebab berhubungan dengan kebiasaan petani dalam menanam suatu jenis tanaman.

2.5              Macam-Macam Pola Tanam Tumpangsari

Menurut (Semeru,1995) dalam sistem pola tanam tumpangsari terdapat berbagai macam sistem dalam pola tanmannya. Penggolongan sistem pola tanam tumpangsari antara lain.
1.      Mixed cropping
Merupakan penanaman jenis tanaman campuran yang ditanam dilahan yng sama, pada waktu yang sama atau dengan jarak/interval waktu tanam yang singkat, dengan pengaturan jarak tanam yang sudah ditetapkan dan populasi didalamnya sudah tersusun rapi.
2.      Relay cropping
Merupakan sistem pola tanam dengan penanaman dua atau lebih tanaman tahunan. Dimana tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih panjang ditanam pada penanaman pertama, sedang tanaman yang ke dua  ditanam setelah tanaman pertama telah berkembang atau mendekati panen.

3.      Strip cropping
Adalah sistem pola tanam dengan penanaman secra pola baris sejajar rapi dan konservasi tanah tanah dimana pengaturan jarak tanamnya sudah ditetapkan dan pada format satu baris terdiri dari satu jenis tanaman dan berbagai jenis tanaman.
4.      Multiple cropping
Merupakan sistem pola tanam yang mengarahkan pada peeeningkatan produktivitas lahan dan melindungi lahan dari erosi. Satu lahan tumbuh dua atau lebih tanaman budidaya yang mempunyai umur sama serta pertumbuhan dari tanamantersebut berada pada lahan dan waktu tanam yang sama, dalam satu baris tanaman terdapat dua atau lebih jenis tanaman.

2.6              Kelebihan dan Kekurangan Pola Tanam Monokultur dan Tumpangasari

Kekurangan dan kelebihan pola tanam monokultur menurut (Setjanata,1983) yaitu.
Kekurangan pola tanam ini adalah pola tanam monokultur memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih besar daripada pola tanam lainnya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya persaingan antar tanaman dalam memperebutkan unsur hara maupun sinar matahari, akan tetapi pola tanam lainnya lebih efisien dalam penggunaan lahan karena nilai LER lebih dari satu.Kelebihan pola tanam ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Namun, di sisi lain, Kelemahan sistem ini adalah tanaman relatif mudah terserang hama maupun penyakit.
Sedangkan kekurangan dan kelebihan pola tanam tumpangsari menurut (Semeru,1995)  yaitu.
Kelebihan dari pola tanam ini salah satunya yaitu dapat mengurangi serangan OPT (pemantauan populasi hama), karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin. Sedangkan kekurangannya yaitu terjadi persaingan unsur hara antar tanaman.

2.7              Syarat yang Harus Diperhatikan Dalam Pola Tanam

Menurut (Beets, 1982) beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam penyusunan pola tanam atau usahatani yaitu.
1)      Ketersediaan air yang menyangkup waktu dan lamanya ketersediaan yang tergantung  pada kinerja air irigasi serta pola distribusi dan jumlah hujan.
2)      Keadaan tanah yang meliputi sifat fisik, kimia serta bentuk permukaan tanah.
3)      Tinggi tempat dari permukaan laut, terutama sehubungan dengan suhu udara, tanah dan  ketersediaan air.
4)      Eksistensi hama dan penyakit tanaman yang bersifat kronis dan potensial.
5)      Ketersediaan dan aksesibilitas bahan tanaman yang meliputi jenis dan varietas menurut  agroekosistem dan toleransi terhadap jasad pengganggu.
6)      Aksesibilitas dan kelancaran pemasaran hasil produksi dengan dukungan infrastruktur  dan potensial yang memadai.

2.8              Pengertian Mulsa

Menurut (Lakitan,1995) mulsa adalah bahan atau material yang digunakan untuk menutupi permukaan tanah atau lahan pertanian dengan tujuan tertentu yang prinsipnya adalah untuk meningkatkan produksi tanaman.
Menurut (Buckman,1969) mulsa adalah semua bahan yang digunakan pada permukaan tanah terutama untuk menghalangi hilangnya air karena penguapan atau untuk mematikan tanaman pengganggu. Mulsa sering juga disebut seresah.

2.9              Fungsi Mulsa

Menurut (Setjanata,1983) fungsi mulsa atau penutup tanah adalah berpengaruh :
1)      positif terhadap tanaman maupun tanah itu sendiri, baik diterapkan pada pertanian organik maupun pertanian biasa.
2)      Untuk peningkatan kesuburan tanah.
3)      Mengurangi penyiraman, karena penguapan air dari tanah menjadi berkurang.
4)      Menjaga suhu tanah lebih stabil. suhu di sekitar perakaran tetap sejuk hingga akar bisa bekerja lebih optimal.
5)      Pengendali gulma.
6)      Mengurangi erosi air atau angin.
7)      Menambah keindahan lahan pertanian.

2.10          Jenis-Jenis mulsa

Jenis-jenis mulsa menurut (Acquaah, 2005 ) yaitu:
1.       Mulsa Organik
Berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Contoh mulsa organik adalah jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman jenis rumput-rumputan lainnya. 
2.       Mulsa Anorganik
Terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya relatif mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam budidaya cabai atau melon. fungsi mulsa plastik ini dapat memantulkan sinar matahari secara tidak langsung untuk menghalau hama tungau, thrips dan apahid, selain itu mulsa plastik digunakan dengan tujuan menaikkan suhu dan menurunkan kelembapan di sekitar tanaman serta dapat menghambat munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung.

2.11          Kelebihan dan Kekurangan Jenis mulsa

Kelebihan dan Kekurangan mulsa organik dan anorgani menurut (Chairumansyah,2010) yaitu:
1.      Mulsa Organik
A.    Kelebihannya adalah :
ü  Dapat di peroleh secara bebas/gratis
ü  Memiliki efek menurunkan suhu tanah
ü  Mengonservasi tanah dengan menekan erosi
ü  Dapat menghambat pertumbuhan tanaman pengganggu
ü  Menambah bahan organic tanah karena mudah lapuk setelah rentang waktu tertentu
B.     Kekurangannya adalah :
ü  Tidak tersedia sepanjang musim tanam, tetapi hanya saat musim panen tadi.
ü  Hanya tersedia di sekitar sentra budidaya padi sehingga daerah yang jauh dari pusat budidaya padi membutuhkan biya ekstra untuk transportasi.
ü  Tidak dapat digunakan lagi untuk masa tanam berikutnya.
2.      Mulsa Anorganik
A.     Kelebihannya adalah :
ü  Dapat di peroleh setiap saat.
ü  Memiliki sifat yang beragam terhadap suhu tanah tergantung pla/spanstik.
ü  Dapat menekan erosi.
ü  Mudah di angkut sehingga dapat digunakan di setiap tempat.
ü  Menekan pertumbuhan tanaman pengganggu.
ü  Dapat digunakan lebih dari satu musim tanam tergantung perawatan bahan mulsa.
B.     Kekurangannya adalah :
ü  Tidak memiliki efek menambah kesuburan tanah karena sifatnya sukar lapuk.
ü  Harganya relative mahal.
BAB III

BAHAN DAN METODE PELAKSANAAN


3.1              Alat dan Bahan

A.    Alat
Cangkul                  : untuk mengolah lahan
Meteran                  : untuk mengukur jarak tanam
Tali rafia                 : untuk memberi tanda jarak tanam
Gembor                   : untuk menyiram tanaman
Bambu                    : sebagai pembatas dan melubangi tanah
Penggaris                : untuk mengukur tinggi tanaman
Alat Tulis                : untuk mencatat hasil pengamatan
Kamera                   : dokumentasi

B.     Bahan
Bibit jagung                       : bahan tanam
Bibit ubi kayu                     : bahan tanam
Benih kedelai                     : bahan tanam
Jerami                                 : bahan mulsa
Serbuk gergaji              : untuk memadatkan tanah yang lembek dan sebagai penutup benih
Sekam                            : sebagai penutup benih
Pupuk Urea                         : bahan pemupukan
Pupuk SP36                        : bahan pemupukan
Pupuk KCL                                    : bahan pemupukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar