TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH
TEKNOLOGI SUMBERDAYA LAHAN
“Kerusakan Lahan
Akibat Erosi Tanah Dan Langkah-Langkah Teknis Penanggulangannya”
Lokasi Studi Kasus Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji,
Kota Batu, Malang, Jawa Timur
1. Latar Belakang
Eksploitasi sumberdaya lahan kini semakin meningkat di
setiap daerah. Khusunya di daerah dengan kegiatan pertanian yang intensif.
Dalam melakukan kegiatan budidaya tanaman atau bercocok tanam, langkah awal
yang harus dilakukan adalah pengolahan lahan. Adanya kegiatan pengolahan lahan
berarti telah dilakukan pembukaan lahan sebelumnya untuk memulai bercocok tanam.
Khusunya pada dataran tinggi atau kawasan hutan yang sebelumnya dipenuhi dengan
pohon-pohon kini semakin berkurang jumlah populasinya. Hal ini sebagai dampak
dari pesatnya pertumbuhan penduduk yang secara tidak langsung harus diimbangi
pula dengan kebutuhan akan pangan. Kebutuhan pangan dapat dipenuhi dengan
kegiatan bercocok tanam. Dengan semakin berkembangnya zaman, kegiatan pertanian
juga semakin berkembang pesat. Munculnya teknologi-teknologi yang dapat
menunjang kegiatan bercocok tanam yang semakin memudahkan. Seperti adanya
mekanisasi pertanian yang diantaranya dapat memudahkan dalam pengolahan lahan
serta beredarnya berbagai macam jenis pupuk sintetik yang dapat memenuhi
kebutuhan unsur hara tanaman secara cepat. Namun tanpa disadari oleh petani, semua
itu sebenarnya dapat mengancam keberadaan lahan pertanian.
Seiring berjalannya waktu akan muncul
permasalahan-permasalahan lahan sebagai akibat dari tidak tepatnya tindakan
yang dilakukan. Salah satu permasalahan yang terjadi yaitu terjadinya degradasi
lahan akibat penurunan kualitas tanah. Dampak lain yang muncul yaitu terjadinya
erosi di lahan tersebut. Erosi disini sebagai akibat rusaknya struktur tanah
akibat pengolahan yang tidak tepat sehingga merusak agregat-agregat dalam
tanah. Rusaknya agregat tanah juga disebabkan karena pemberian pupuk sintetik
yang berlebih sehingga meningkatkan kemasaman tanah dan kadar garam dalam
tanah. Erosi sering terjadi pada lahan dataran tinggi. Penggunaan teras yang
tidak tepat dapat memperparah terjadinya erosi. Pada lahan dataran tinggi
biasanya jarang sekali ditemukan tanaman penutup tanah selain tanaman budidaya.
Sehingga kurangnya akar-akar yang dapat menyangga tanah. Penanaman pohon
tahunan yang memiliki akar dalam sangat berperan penting sebagai penyangga
tanah bila terjadi hujan. Saat hujan deras terjadi, air akan masuk ke dalam dan
apabila tanah dalam kondisi tidak baik, maka partikel-partikel tanah akan ikut
terbawa aliran air hujan yang lama kelamaan akan menggerus permukaan tanah
tersebut.
2. Karakteristik dan Permasalahan Kerusakan Lahan
Gambar. Lahan
budidaya wortel
Gambar. Lahan yang Terkena Erosi
Lokasi pengamatan
dilakukan di daerah Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang,
Jawa Timur. Lokasi tersebut berada di ketinggan ± 1500 mdpl dengan rata-rata
curah hujan ± 2500 mm/tahun dan suhu rata-rata 20o C- 24o
C. Lahan budidaya dilakukan dengan sistem teras. Tanaman yang di budidayakan
yaitu tanaman wortel (Daucus carota L.).
Terlihat pada gambar diatas, bahwa lahan
budidaya wortel di lokasi pengamatan telah mengalami kerusakan. Kerusakan yang
terlihat yaitu terbentuknya alur-alur yang dalam atau disebut juga dengan erosi
alur akibat pengikisan oleh aliran air. Terjadinya erosi dipengaruhi oleh
jumlah curah hujan dan limpasan permukaan tanah. Proses erosi biasanya di awali
dengan hancurnya agregat tanah yang kemudian terjadi penguraian agregat-agregat
tanah hingga terjadi menyumbat pori-pori tanah. Bila itu terjadi penyumbatan
maka proses infiltrasi dan perkolasi menjadi rendah. Kemudian akan terjadi
limpasan permukaan yang akan mengakibatkan terjadi pengangkutan dan pengikisan
permukaan tanah. Semakin besar curah hujan dan limpasan permukaan maka semakin
besar terjadinya erosi. Hal ini mengakibatkan semakin banyaknya partikel tanah
yang terangkut aliran air. Masalah yang laiinya yaitu pembentukan teras yang
searah dengan arah lereng sehingga semakin meningkatkan terjadinya erosi.
Akibat dari erosi
tersebut, banyak permukaan tanah yang tergerus. Secara tidak langsung kandungan
unsur hara dalam tanah juga akan ikut terbawa. Bila hal tersebut terjadi
berkelanjutan maka akan mengakibatkan terjadinya penurunan produktifitas
tanaman budidaya. Pada lokasi pengamatan, terlihat hampir sebagian besar lahan
mengalami erosi. Tanaman budidaya di sana terlihat kurang sehat dan banyak yang
mati sebelum panen. Tidak ada tindakan yang diambil petani untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Karena lahan-lahan yang terkena erosi terkesan dibiarkan saja oleh
petani. Hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran petani untuk konservasi lahan
pertanian.
3. Strategi Konservasi Tanah
Menurut Arsyad (1989), konservasi tanah merupakan
tindakan untuk menjaga dan melestarikn kondisi tanah serta mampu menempatkan
penggunaan tanah sesuai dengan kemampuan tanah tersebut untuk menghindari
terjadi kerusakan. Ada berbagai macam strategi yang dapat dilakukan dalam upaya
konservasi tanah, yaitu dengan metode vegetatif dan metode mekanis.
1)
Metode
Vegetatif
Merupakan
metode yang menggunakan tanaman/ tumbuhan serta sisa-sisanya untuk mengurangi
dampak kerusakan dari air hujan serta aliran permukaan. Berikut yang termasuk
metode vegetatif ialah.
a.
Pemanfaatan
sisa-sisa tanaman/tumbuhan
Pengaplikasian
sisa-sisa tanaman berupa mulsa. Mulsa dapat disebarkan di permukaan tanah yang
dapat meredam energi hujan yang jatuh ke tanah sehingga tidak merusak struktur
tanah. Kecepatan dan jumlah aliran permukaan juga bisa di kurangi. Metode
tersebut juga bermanfaat bagi kegiatan biologi tanah karena dapat membentuk
senyawa organik yang bermanfaat untuk pembentukan tanah.
b.
Pergiliran
tanaman
Cara tersebut
dilakukan dengan melakukan pergiliran tanaman berbeda setiap musim tanam. Jenis
tanaman sebaiknya memiliki perakaran berbeda agar dapat mencegah terjadinya
erosi.
c. Strip cropping
Metode ini adalah suatu sistem
bercocok tanam dengan beberapa jenis tanaman yang ditanam dalam strip yang
berselang-seling dalam sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut
garis kontur.
d.
Sistem
pertanaman hutan
Metode ini dilakukan
dengan cara menaman jenis tanaman berbeda seperti menaman tanaman semusim dan
tanaman tahunan. Tanaman-tanaman tersebut memilik sistem perakaran yang berbeda
sehingga dapat menjaga kondisi fisik dan kimia serta biologi tanah. Semakin
tinggi tingkat biodiveritas maka akan semakin mudah dalam upaya konservasi
tanah.
2)
Metode
Mekanik
Merupakan
perlakuan fisik mekanik yang diberikan terhadap tanah untuk mengurangi aliran
permukaan dan erosi dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Berikut yang termasuk
metode mekanik ialah.
a. Pengolahan tanah
Pengolahan
lahan dilakukan berfungsi untuk menciptakan keadaan tanah agar sesuai untuk
pertubumbuhan tanaman budidaya.
b. Pengolahan tanah menurut kontur
Pengolahan
dilakukan dengan cara pembajakan dan pembuatan bedengan dengan memotong lereng
sehingga membentuk alur searah garis kontur. Hal ini daoat meminimalisir
terjadinya erosi
c. Pembuatan Teras
Teras
berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga mengurangi
kecepatan dan jumlah aliran permukaan dan memungkinkan penyerapan air oleh
tanah.
4.
Kesimpulan
Erosi merupakan proses hilangnya partikel-partikel tanah akibat curah hujan
dan limpasan permukaan. Pada lokasi pengamatan Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan
Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur dengan budidaya tanaman wortel telah
mengalami erosi alur. Erosi alur ditandai dengan adanya alur-alur yang dalam
akibat limpasan permukaan yang membawa partikel-partikel tanah. Erosi di lahan
tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, pengolahan tanah yang kurang
tepat, pembuatan teras yang serah dengan arah lereng yang dapat memperbesar
resiko terjadinya erosi. Kurangnya tanaman penutup tanah selain tanaman
budidaya juga sangat berpengaruh besar. Strategi yang dapat dilakukan dalam
upaya konservasi tanah yaitu dengan cara metode vegetatif berupa pemanfaatan
sisa tanaman sebagi mulsa, pergiliran tanaman, strip cropping, dan sistem pertanaman hutan. Selain itu juga ada
metode mekanik berupa pengolahan tanah sesuai kontur (memotong lereng) dan
pembuatan teras.
Sumber
:
Arsyad,
Sitanala. (1989). Konservasi Tanah dan Air, Bogor: Penerbit Institut Pertanian Bogor (IPB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar