Rabu, 12 Oktober 2016

TEKNOLOGI SUMBERDAYA LAHAN

TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH

TEKNOLOGI SUMBERDAYA LAHAN

“Kerusakan Lahan Akibat Erosi Tanah Dan Langkah-Langkah Teknis Penanggulangannya”

Lokasi Studi Kasus Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur
 


1.    Latar Belakang


Eksploitasi sumberdaya lahan kini semakin meningkat di setiap daerah. Khusunya di daerah dengan kegiatan pertanian yang intensif. Dalam melakukan kegiatan budidaya tanaman atau bercocok tanam, langkah awal yang harus dilakukan adalah pengolahan lahan. Adanya kegiatan pengolahan lahan berarti telah dilakukan pembukaan lahan sebelumnya untuk memulai bercocok tanam. Khusunya pada dataran tinggi atau kawasan hutan yang sebelumnya dipenuhi dengan pohon-pohon kini semakin berkurang jumlah populasinya. Hal ini sebagai dampak dari pesatnya pertumbuhan penduduk yang secara tidak langsung harus diimbangi pula dengan kebutuhan akan pangan. Kebutuhan pangan dapat dipenuhi dengan kegiatan bercocok tanam. Dengan semakin berkembangnya zaman, kegiatan pertanian juga semakin berkembang pesat. Munculnya teknologi-teknologi yang dapat menunjang kegiatan bercocok tanam yang semakin memudahkan. Seperti adanya mekanisasi pertanian yang diantaranya dapat memudahkan dalam pengolahan lahan serta beredarnya berbagai macam jenis pupuk sintetik yang dapat memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman secara cepat. Namun tanpa disadari oleh petani, semua itu sebenarnya dapat mengancam keberadaan lahan pertanian.

Seiring berjalannya waktu akan muncul permasalahan-permasalahan lahan sebagai akibat dari tidak tepatnya tindakan yang dilakukan. Salah satu permasalahan yang terjadi yaitu terjadinya degradasi lahan akibat penurunan kualitas tanah. Dampak lain yang muncul yaitu terjadinya erosi di lahan tersebut. Erosi disini sebagai akibat rusaknya struktur tanah akibat pengolahan yang tidak tepat sehingga merusak agregat-agregat dalam tanah. Rusaknya agregat tanah juga disebabkan karena pemberian pupuk sintetik yang berlebih sehingga meningkatkan kemasaman tanah dan kadar garam dalam tanah. Erosi sering terjadi pada lahan dataran tinggi. Penggunaan teras yang tidak tepat dapat memperparah terjadinya erosi. Pada lahan dataran tinggi biasanya jarang sekali ditemukan tanaman penutup tanah selain tanaman budidaya. Sehingga kurangnya akar-akar yang dapat menyangga tanah. Penanaman pohon tahunan yang memiliki akar dalam sangat berperan penting sebagai penyangga tanah bila terjadi hujan. Saat hujan deras terjadi, air akan masuk ke dalam dan apabila tanah dalam kondisi tidak baik, maka partikel-partikel tanah akan ikut terbawa aliran air hujan yang lama kelamaan akan menggerus permukaan tanah tersebut.


2.    Karakteristik dan Permasalahan Kerusakan Lahan

 

Gambar.  Lahan budidaya wortel


                                          
Gambar. Lahan yang Terkena Erosi

Lokasi pengamatan dilakukan di daerah Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Lokasi tersebut berada di ketinggan ± 1500 mdpl dengan rata-rata curah hujan ± 2500 mm/tahun dan suhu rata-rata 20o C- 24o C. Lahan budidaya dilakukan dengan sistem teras. Tanaman yang di budidayakan yaitu tanaman wortel (Daucus carota L.).
 Terlihat pada gambar diatas, bahwa lahan budidaya wortel di lokasi pengamatan telah mengalami kerusakan. Kerusakan yang terlihat yaitu terbentuknya alur-alur yang dalam atau disebut juga dengan erosi alur akibat pengikisan oleh aliran air. Terjadinya erosi dipengaruhi oleh jumlah curah hujan dan limpasan permukaan tanah. Proses erosi biasanya di awali dengan hancurnya agregat tanah yang kemudian terjadi penguraian agregat-agregat tanah hingga terjadi menyumbat pori-pori tanah. Bila itu terjadi penyumbatan maka proses infiltrasi dan perkolasi menjadi rendah. Kemudian akan terjadi limpasan permukaan yang akan mengakibatkan terjadi pengangkutan dan pengikisan permukaan tanah. Semakin besar curah hujan dan limpasan permukaan maka semakin besar terjadinya erosi. Hal ini mengakibatkan semakin banyaknya partikel tanah yang terangkut aliran air. Masalah yang laiinya yaitu pembentukan teras yang searah dengan arah lereng sehingga semakin meningkatkan terjadinya erosi.
Akibat dari erosi tersebut, banyak permukaan tanah yang tergerus. Secara tidak langsung kandungan unsur hara dalam tanah juga akan ikut terbawa. Bila hal tersebut terjadi berkelanjutan maka akan mengakibatkan terjadinya penurunan produktifitas tanaman budidaya. Pada lokasi pengamatan, terlihat hampir sebagian besar lahan mengalami erosi. Tanaman budidaya di sana terlihat kurang sehat dan banyak yang mati sebelum panen. Tidak ada tindakan yang diambil petani untuk mengatasi permasalahan tersebut. Karena lahan-lahan yang terkena erosi terkesan dibiarkan saja oleh petani. Hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran petani untuk konservasi lahan pertanian.




3.    Strategi Konservasi Tanah

Menurut Arsyad (1989), konservasi tanah merupakan tindakan untuk menjaga dan melestarikn kondisi tanah serta mampu menempatkan penggunaan tanah sesuai dengan kemampuan tanah tersebut untuk menghindari terjadi kerusakan. Ada berbagai macam strategi yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi tanah, yaitu dengan metode vegetatif dan metode mekanis.

1)    Metode Vegetatif
Merupakan metode yang menggunakan tanaman/ tumbuhan serta sisa-sisanya untuk mengurangi dampak kerusakan dari air hujan serta aliran permukaan. Berikut yang termasuk metode vegetatif ialah.
a.    Pemanfaatan sisa-sisa tanaman/tumbuhan
Pengaplikasian sisa-sisa tanaman berupa mulsa. Mulsa dapat disebarkan di permukaan tanah yang dapat meredam energi hujan yang jatuh ke tanah sehingga tidak merusak struktur tanah. Kecepatan dan jumlah aliran permukaan juga bisa di kurangi. Metode tersebut juga bermanfaat bagi kegiatan biologi tanah karena dapat membentuk senyawa organik yang bermanfaat untuk pembentukan tanah.
b.    Pergiliran tanaman
Cara tersebut dilakukan dengan melakukan pergiliran tanaman berbeda setiap musim tanam. Jenis tanaman sebaiknya memiliki perakaran berbeda agar dapat mencegah terjadinya erosi.
c.    Strip cropping
Metode ini adalah suatu sistem bercocok tanam dengan beberapa jenis tanaman yang ditanam dalam strip yang berselang-seling dalam sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut garis kontur.
d.    Sistem pertanaman hutan
Metode ini dilakukan dengan cara menaman jenis tanaman berbeda seperti menaman tanaman semusim dan tanaman tahunan. Tanaman-tanaman tersebut memilik sistem perakaran yang berbeda sehingga dapat menjaga kondisi fisik dan kimia serta biologi tanah. Semakin tinggi tingkat biodiveritas maka akan semakin mudah dalam upaya konservasi tanah.

2)    Metode Mekanik
Merupakan perlakuan fisik mekanik yang diberikan terhadap tanah untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Berikut yang termasuk metode mekanik ialah.
a.    Pengolahan tanah
Pengolahan lahan dilakukan berfungsi untuk menciptakan keadaan tanah agar sesuai untuk pertubumbuhan tanaman budidaya.
b.    Pengolahan tanah menurut kontur
Pengolahan dilakukan dengan cara pembajakan dan pembuatan bedengan dengan memotong lereng sehingga membentuk alur searah garis kontur. Hal ini daoat meminimalisir terjadinya erosi
c.    Pembuatan Teras
Teras berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah.

4Kesimpulan


Erosi merupakan proses hilangnya partikel-partikel tanah akibat curah hujan dan limpasan permukaan. Pada lokasi pengamatan Dukuh Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur dengan budidaya tanaman wortel telah mengalami erosi alur. Erosi alur ditandai dengan adanya alur-alur yang dalam akibat limpasan permukaan yang membawa partikel-partikel tanah. Erosi di lahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, pengolahan tanah yang kurang tepat, pembuatan teras yang serah dengan arah lereng yang dapat memperbesar resiko terjadinya erosi. Kurangnya tanaman penutup tanah selain tanaman budidaya juga sangat berpengaruh besar. Strategi yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi tanah yaitu dengan cara metode vegetatif berupa pemanfaatan sisa tanaman sebagi mulsa, pergiliran tanaman, strip cropping, dan sistem pertanaman hutan. Selain itu juga ada metode mekanik berupa pengolahan tanah sesuai kontur (memotong lereng) dan pembuatan teras.




Sumber :

Arsyad, Sitanala. (1989). Konservasi Tanah dan Air, Bogor: Penerbit Institut  Pertanian Bogor (IPB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar