Selasa, 23 Juni 2015

Laporan Panen dan Pasca Panen



BAB I

PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang

Dalam pertanian, panen merupakan kegiatan mengumpulkan hasil usaha tani dari lahan budidaya Sedangkan penanganan pasca panen dapat diartikan sebagai upaya sangat strategis dalam rangka mendukung peningkatan produksi hasil panen. Kedua aspek ini sangat penting untuk meningkatkan hasil petani jika dilakukan sesuai dengan langkahnya. Penanganan panen pada setiap komoditas memiliki tahap yang berbeda-beda sesuai sifat komoditas tersebut. Sayuran dan buah-buahan pun mempunyai sifat fisik yang berbeda. Perbedaan tingkat kematangan juga menyebabkan perbedaan sifat fisik. Sifat fisik buah dan sayur yang sering melipputi parameter antara lain: warna, aroma, rasa, bentuk ukuran dan kekerasan. Umumnya diamati secara subyektif.sedangkan parameter berat ditetapkan secara obyektif menggunakan alat timbangan. Komposisi setiap macam sayuran dan buah-buahan berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu perbedaan varietas, keadaan cuaca tempat tumbuh, pemeliharaan tanaman, dan kondisi penyimpanan. Pada dasarnya panen dan pasca panen merupakan dua buah kegiatan yang saling berkaitan dalam bidang pertanian, dan merupakan kegiatan akhir sebelum pemasaran produk pertanian.

1.2         Tujuan

1.      Mengetahui kriteria panen yang tepat dan benar
2.      Membandingkan setiap perlakuan yang dilakukan pada komoditas wortel yang diberi plastik wrap dengan yang tidak diberi plastik wrap serta yang disimpan di suhu ruang dengan suhu kulkas.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1         Definisi Panen dan Pasca Panen

Menurut Mutiarawati (2009), panen merupakan pekerjaan akhir dari budidaya tanaman (bercock tanam) tapi merupakan awal dari pekerjaan pasca panen yaitu melakukan persiapan untuk penyimpanan dan pemasaran.
Menurut Suprapti (2002), penanganan pasca panen merupakan berbagai kegiatan atau perlakuan terhadap tanaman yang sudah diambil dari lahan yang menentukan kuaalitas selanjutnya.

2.2         Kriteria Panen

Menurut Mutiarawati (2009), menentukan waktu panen yang tepat dapat dilakuka berbagai cara, sebagai berikut.
1.      Cara visual/penampakan : misal dilihat dari warna kulit, ukuran, dan bentuk buah.
2.      Cara fisik : misal dengan peraaan, buah lunak, umbi keras.
3.      Cara komputasi : menghitung umur tanaman sejak tanam atau umur bu8ah dari mekarnya buah.
4.      Cara kimia : melakukan pengukurai kadar gun analisa kandungan zat atau senyawa yang ada dalam komoditas, seperti kadar gula.

2.3         Faktor-Faktor Penyebab Kehilangan Hasil Panen

Menurut Soemardi (1986) ada beberapa faktor yang paling mempengaruhi kehilangan hasil panen, diantaranya yaitu perbedaan varietas yang digunakan pada tanaman, alat dan cara panen yang digunakan, perilaku petani pada hasil panen, umur panen, lokasi, musim, panjangnya proses pemasaran, dan kurang tepatnya penanganan pada pasca panen.

2.4         Macam-Macam Kegiatan Penanganan Pasca Panen

Menurut Rahmat (1993), ada penanganan pasca panen pada buah

a.       Sorting
Biasanya dilakukan untuk mengeliminasi produk yang luka, busuk/cacat lainnya sebelum pendinginan/penanganan berikutnya. Sorting juga akan menghemat tenaga karena produk cacat tidak ikut tertangani. Tujuan adalah memisahkan produk-produk yang busuk agar terhindar dari penyebaran infeksi ke produk yang masih bagus.
b.      Pembersihan ( cleaning )
Membersihkan dari kotoran/benda asing lain, mengambil bagian-bagian yang tidak di kehendaki seperti daun, tangkai/akar yang tidak diinginkan.
c.       Pencucian ( washing )
Dilakukan pada sayuran daun yang tumbuh dekat tanah untuk membersihkan kotoran yang menempel dan memberi kesegaran.Selain itu dengan pencucian juga dapat mengurangi residu pestisida dan hama penyakit yang terbawa.
d.      Pengeringan ( drying )
Bertujuan untuk mengurangi kadar air dari komoditas. Pada biji-bijian pengeringan dilakukan sampai kadar air tertentu agar dapat disimpan lama. Pada bawang merah, pengeringan hanya dilakukan sampai kulit mengering.
e.       Pelapisan Lilin
Melapisi permukaan sayur dengan bahan dapat menekan laju respirasi maupun juga dapat menekan laju transpirasi sayur selama penyimpanan/pemasaran.Pelapisan juga bertujuan untuk menambah perlindungan bagi sayuran terhadap pengaruh luar.Beberapa penelitian membuktikan bahwa pelapisan dapat memperpanjang masa simpan dan menjaga kesegaran.
f.       Pengemasan ( packing )
Hal ini dilakukan pada sayuran yang ditujukan untuk konsumen. Pengemasan dilakukan dengan cara membungkus sayur dengan plastik ataupun bahan lain yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang lebih besar.
g.      Pengangkutan
Pada umumnya diartikan sebagai penyimpanan berjalan.Semua kondisi penyimpanan pada komoditas yang diangkut harus diterapkan. Faktor pengangkutan yang perlu diperhatikan adalah :
a.       Fasilitas angkutan
b.       Jarak yang ditempuh/lama perjalanan
c.        Kondisi lingkungan dan jalan
d.       Perlakuan “ bongkar-muat ” yang ditetapkan
e.        Penyimpan ( Stronge operation )

Tujuan penyimpanan hasil panen :
a.       Memperpanjang produk yang melimpah
b.      Menampung produk yang melimpah
c.       Menyediakan komoditas tertentu sepanjang lahan
d.      Membantu dalam pengaturan pemasaran
e.       Mempertahankan kualitas dari komoditas yang disimpan

2.5         Pengaruh Faktor Biotik dan Abiotik Terhadap Penyimpanan Hasil Panen

Menurut Kays (1991), perubahan-perubahan fisiologis selama masa penyimpanan diantaranya adalah daun menguning atau layu, batang mengeras, buah terlalu matang, buah keriput, dan buah atau biji mulai alot. Menurut Baliwati (2004) ada 2 faktor yang mempengaruhi perubahan pada penyimpanan hasil pertanian, yaitu faktor biotic dan abiotik. Faktor biotic: kerusakan akibat serangga, jamur, hama/penyakit. Serangan ini dapat menyebabkab buah dan sayur busuk atau tidak layak konsumsi. Faktor abiotik: kerusakan yang disebabkan oleh faktor sirkulasi udara, kelembaban relative, cahaya, angin, dan kompposisi udara.





BAB III

METODOLOGI


3.1         Alat dan Bahan

1.      Alat
ü  Timbangan          : menimbang massa komoditas wortel
ü  Plastik                 : untuk membungkus komoditas wortel
ü  Sterofoam           : wadah komoditas wortel
ü  Kulkas                 : tempat menyimpan komoditas wortel
2.      Bahan
ü  Wortel                 : sebagai bahan pengamatan



BAB V

PEMAHASAN


BAB V

PENUTUP


5.1         Kesimpulan

Pada praktikum yang telah dilakukan menggunakan cara pengamatan wortel dengan wrapping plastik disimpan dalam lemari es, wortel tanpa wrapping plastik disimpan dalam lemari es, wortel dengan wrapping plastik disimpan dalam suhu kamar dan wortel tanpa wrapping plastik disimpan dalam suhu kamar. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa perlakuan wrapping pada suhu kulkas merupakan perlakuan yang paling baik, dimana menunjukkan penurunan bobot bahan secara perlahan, sedangkan perlakuan tidak wrapping pada suhu ruang merupakan perlakuan yang paling buruk, dimana menunjukkan penurunan bobot bahan sangat signifikan. Jika diurutkan dari yang terburuk ke yang terbaik maka didapatkan sebagai berikut: tidak wrapping pada suhu ruang, tidak wrapping pada suhu kulkas, wrapping pada suhu ruang, dan wrapping pada suhu kulkas. Perubahan yang terjadi terlihat dari adanya mikroorganisme, jamur, belatung dan aroma/bau. Dari uraian diatas dapat dilihat pembusukan pada sampel yang tidak dibungkus terjadi lebih cepat dibandingkan pada sampel yang diberi wrap plastik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar