1. MACAM KONSERVASI VEGETATIF
Tanaman Penutup Tanah
a.
Pengertian
Tanaman Penutup Tanah
Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan
atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman
kerusakan oleh erosi atau untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia
tanah.
b.
Peran
Tanaman Penutup Tanah
Tanaman penutup tanah memegang peranan
penting dalam mempengaruhi erosi yang terjadi. Dalam hal ini tanaman penutup
tanah memberikan perlindungan terhadap tanah dari proses penghancuran agregat
oleh hujan dan aliran permukaan, dengan demikian dapat membatasi kekuatan
merusak dari hujan dan aliran permukaan (Morgan, 2005 dalam Fuady, dkk, 2014).
Disamping itu keberadaan tanaman penutup tanah juga dapat meningkatkan sifat
fisik dan kimia tanah melalui kontribusinya terhadap peningkatan kadar bahan organik
tanah (Zuazo et al., 2004 dalam Fuady, dkk, 2014).
Tanaman penutup tanah berperan dalam menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan
yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah
melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air
tanah. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan
dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan
memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi (Budiwati,
2015).
c.
Syarat
tumbuhan atau tanaman penutup tanah
Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan
sebagai penutup tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus
memenuhi syarat-syarat (Osche et al, 1961 dalam Budiwati, 2015):
a)
mudah diperbanyak, sebaiknya dengan
biji,
b)
mempunyai sistem perakaran yang
tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat
pengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang
tinggi,
c)
tumbuh cepat dan banyak menghasilkan
daun,
d)
toleransi terhadap pemangkasan,
e)
resisten terhadap gulma, penyakit
dan kekeringan,
f)
mampu menekan pertumbuhan gulma,
g)
mudah diberantas jika tanah akan
digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya,
h)
sesuai dengan kegunaan untuk
reklamasi tanah,
i)
tidak mempunyai sifat-sifat yang
tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit.
d.
Penggolongan
tanaman penutup tanah
Tanaman penutup tanah atau tanaman
pembantu dapat digolongkan dalam:
a)
Tanaman penutup tanah
sebaiknya bertingkat, terdiri dari tanaman penutup tanah rendah, sedang (perdu)
dan tinggi (pelindung). Tanaman penutup tanah rendah misalnya Ageratum
conyzoides L (babandotan), Andropogon zizanoides (akar wangi), Panicum
maximum (rumput benggala), Panicum ditachyum (balaban, paitan), Paspalum
dilatum (rumput Australia), Pennisetum purpureum (rumput gajah), Centrosema
pubescens Benth.
b)
Tanamaan penutup tanah
sedang (perdu), misalnya Lantana camara L (tahi ayam), Crotalaria
anagyroides HBK, Tephrosia candida DC, Tepherosia vogelii,
Desmodium gyroides DC (kakatua, jalakan). Acacia villosa Wild, Sesbania
grandiflora PERS (turi), Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra
merah), Gliricidia maculata (gamal), Clorataria juncea (orok-orok),Cajanus
cajan Nillst (kacang gude), Leucaena glauca (L) Benth (pete cina,
lamtoro, kemlandingan).
c)
Tanaman penutup tanah
tinggi (pelindung) misalnya Albizia falcata (sengon laut, jeunjing), Pithecellobium
saman benth (pohon hujan), Erythrina sp. (dadap), Gliricidia
sepium,Leucaena glauca atau Leucaena leucocephala, Albizia procera Benth,
Acacia melanoxylon, Acacia mangium, Eucalyptus
saligna,Cinchona succirubra,Gigantolochloa apus (bambu apus), Dendrocalamus
asper (bambu betung) Bambusa vulgaris (bambu wulung).
Pemilihan tanaman
penutup tanah selain memenuhi persyaratan, sebaiknya dipertimbangkan juga
manfaat tanaman secara ekonomi. Dengan harapan, selain bermanfaat dalam
pelestarian lingkungan, penduduk setempat bisa memperoleh penghasilan tambahan
dari tanaman tersebut (Budiwati, 2015).
Penggunaan Mulsa
Mulsa adalah
bahan yang diberikan pada tanah (selain pupuk) yang biasanya diberikan pada
bagian permukaan. Mulsa ini terdiri dari dua jenis, yakni mulsa Organik dan
juga mulsa An-Organik. Mulsa Organik yang bersal dari tumbuhan sedangkan mulsa
An – organic yang bersal dari Non tumbuhan, seperti MPHP (mulsa plastic Hitam perak). Menurut
Hidayat (2015), Mulsa selain dari sisa tumbuhan juga berbahan dasar plastik,
batu, dan pasir. Mulsa dapat mengurangi erosi dan merendam energi hujan yang
jatuh sehingga tidak merusak struktur tanah, dan mengurangi aliran permukaan.
Sedangkan mulsa organik berasal dari sisa tumbuhan yang merupakan sumber energi
yang akan meningkatkan kegiatan biologi tanah dan dalam proses perombakannya
akan terbentuk senyawa senyawa organik.
Sedangkan
menurut Pendapat Sutono dan Husen,dkk (2007) bahwa Pemberian mulsa dimaksudkan
untuk menutupi permukaan tanah agar terhindar dari pukulan butir hujan. Mulsa
merupakan teknik pencegahan erosi yang cukup efektif. Jika bahan mulsa berasal
dari bahan organik, maka mulsa juga berfungsi dalam pemeliharaan bahan organik
tanah. Bahan organik yang dapat dijadikan mulsa dapat berasal dari sisa
tanaman, hasil pangkasan tanaman pagar dari sistem pertanaman lorong, hasil
pangkasan tanaman penutup tanah atau didatangkan dari luar lahan pertanian.
Fungsi lain mulsa adalah :
• Jika sudah melapuk dapat meningkatkan
kemampuan tanah menahan air sehingga air lebih tersedia untuk pertumbuhan
tanaman, dan memperkuat agregat tanah.
• Mengurangi kecepatan serta daya kikis
aliran permukaan.
•
Mengurangi evaporasi, memperkecil fluktuasi suhu tanah, meningkatkan jumlah
pori aerasi sebagai akibat meningkatnya kegiatan jasad hidup di dalam tanah dan
meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah.
•
Menyediakan sebagian zat hara bagi tanaman.
• Dianjurkan menggunakan 6 ton
mulsa/ha/tahun atau lebih. Bahan mulsa yang paling mudah didapatkan adalah sisa
tanaman.
• Mulsa diberikan dengan jalan
menyebarkan bahan organik secara merata di permukaan tanah.
• Bahan mulsa yang baik adalah bahan
yang sukar melapuk seperti jerami padi dan batang jagung.
• Mulsa dapat juga diberikan ke dalam
lubang yang dibuat khusus dan disebut sebagai mulsa vertikal.
Penanaman searah kontur
(contour farming)
Bertani menurut
kontur (contour farming) merupakan
semua tindakan budidaya tanaman mulai dari pengolahan tanah, pengaturan barisan
tanaman dan lain-lain yang dilakukan searah dengan kontur. Dengan cara ini,
kekasaran permukaan akan meningkat sehingga limpasan permukaan (kecepatan dan
volume) akan berkurang dan selanjutnya erosi menjadi lebih rendah.
Penerapan Pola tanam
Ø Pergiliran tanaman
Pergiliran
tanaman merupakan cara penting lainnya dalam upaya konservasi tanah dan air
yaitu dengan menanam berbagai jenis tanaman secara bergilir dalam urutan waktu
tertentu pada sebidang lahan misalnya pergiliran antara tanaman pangan dengan
tanaman penutup tanah atau pupuk hijau (Marhendi, 2014). Pergiliran atau rotasi
tanaman yaitu merupakan salah satu pola tanam yang menanam lebih dari satu
jenis tanaman yang tidak sefamili secara bergilir pada satu lahan pada satu
periode penanaman dalam urutan waktu tertentu yang bertujuan untuk memutuskan
siklus hidup hama dan penyakit tanaman Pergiliran tanaman adalah pola tanam
dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah dimana tanaman
kedua atau berikutnya ditanam setelah tanaman pertama berbunga sehingga pada
waktu tanaman pertama dipanen tanaman kedua atau berikutnya sudah mulai tumbuh. Menurut (Mardaeni, 2014) keuntungan
dari pergiliran tanaman antara lain:
·
Mengurangi resiko
penurunan kesuburan tanah
Dengan adanya
pergiliran tanaman misalnya Padi-Semangka, sisa tanaman semangka tetap
dibenamkan dalam tanah untuk pertanaman selanjutnya, sehingga suplai bahan
organik semakin besar dan lebih mudah terdekomposisi. Bahan organik dalam tanah
akan mengalami transformasi dimana biota tanah akan terus menerus mengobah komponen
organik dari satu bentuk ke bentuk lain. Biota tanah akan mengkonsumsi bahan
organik yang kemudian menghasilkan produk sampingan, limbah dan jaringan
tubuhnya sebagai sumber hara bagi tanaman. (Palembang, 2013).
·
Memotong siklus hama
atau penyakit
·
Menganeka ragamkan
hasil, meningkatkan hasil tanaman
·
Mengurangi laju erosi
tanah
·
Mempertahankan
sifat-sifat fisik tanah dengan cara mengembalikan sisa-
sisa
tanaman ke dalam tanah
Syarat dari pergiliran tanaman antara
lain:
·
Tanaman yang ditanam
tidak membutuhkan hara yang sama
·
Tidak mempunyai hama
atau penyakit yang sama
Contoh
dari pergiliran tanaman yaitu padi gogo-kacang tanah-jagung
Ø Tanaman campuran
Tanaman
campuran merupakan penanaman beberapa tanaman pada sebidang lahan pada waktu
yang sama. Terdapat lebih dari satu tanaman yang dianggap sebagai tanaman
utama. Tanaman campuran merupakan penanaman jenis tanaman campuran yang ditanam
pada lahan dan waktu yang sama atau jarak waktu tanam yang singkat, tanpa
pengaturan jarak tanam dan penentuan jumlah populasi. Kegunaan sistem ini dapat
menekan kegagalan panen total (Kustantini, 2012).
Ø Tumpangsari
Tumpangsari
merupakan penanaman beberapa tanaman pada sebidang lahan pada waktu yang sama.
Pada tumpangsari ada tanaman yang dianggap sebagai tanaman utama dan tanaman
sela. Tumpangsari adalah penanaman lebih dari satu tanaman pada waktu atau
periode tanam yang bersamaan pada lahan yang sama (Thahir, 1999). Tumpangsari
merupakan pola tanam polikultur dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman
pada suatu hamparan lahan dalma periode waktu tanam yang sama (Anwar, 2012).
Menurut Setiawan (2009) Keuntungan dari tumpangsari antara lain:
a. Tajuk
cepat menutup lahan sehingga dapat menurunkan erosi
b. Mempertahankan
kesuburan tanah
c. Memperkecil
resiko kegagalan panen
Syaratnya yaitu:
a. Tidak
mempunyai kebutuhan hara dan tajuk yang sama
b. Diusahakan
salah satu tanaman dapat menambah hara
c. Tidak
mempunyai hama atau penyakit yang sama
Contohnya:
ubikayu + jagung; tebu + cowpea
Ø Strip cropping
Pertanaman
dalam strip (strip cropping) yaitu
pola tanam dengan menanam beberapa jenis tanaman secara berselang seling dalam
strip-strip pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut garis
kontur (Marhendi, 2014). Tanaman yang ditanam biasanya tanaman pangan atau
tanaman semusim diselingi dengan strip-strip tanaman penutup tanah yang tumbuh
cepat dan rapat untuk pupuk hijau. Keuntungan dari strip cropping ini adalah dapat menekan laju erosi tanah (Nurdin,
2012). Terdapat tiga tipe penanaman dalam strip yaitu:
1. Penanaman
dalam strip menurut kontur berupa susunan strip-strip yang tepat menurut garis
kontur dengan urutan pergiliran tanaman yang tepat
2. Penanaman
dalan strip lapangan berupa strip-strip tanaman yang lebarnya seragam dan
disusun melintang arah lereng
3. Penanaman
dalam strip berpenyangga berupa strip-strip rumput atau leguminosa yang dibuat
di antara strip-strip tanaman pokok menurut kontur.
Menurut
Marhendi (2014) pada pengelolaan lahan dalam strip ini tanah diolah searah
garis kontur:
1. Setiap
lajur ditanami dengan satu jenis tanaman
2. Lajur-lajur
dibuat memotong lereng atau searah kontur
3. Tanaman
pangan atau tanaman semusim ditanam secara berselang-seling dengan tanaman
pupuk hijau atau tanaman penutup tanah yang ditanam secara rapat.
Ø Alley cropping
Tanaman
lorong (alley cropping) adalah bentuk
khusus strip cropping dimana sebagai
tanaman stripnya adalah tanaman pohon yang disebut hedgerow (tanaman pagar) sedangkan tanaman pangan ditanam di antara
2 baris tanaman pagar disebut pula sebagai tanaman lorong (Kurnia, 2004). Sistem
pertanaman lorong atau alley cropping adalah suatu sistem dimana tanaman pagar
pengontrol erosi berupa barisan tanaman yang ditanam rapat mengikuti garis
kontur sehingga membentuk lorong-lorong dan tanaman semusim berada di antara
tanaman pagar tersebut. Sistem pertanaman lorong merupakan suatu sistem dimana
tanaman pangan ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar. Pola tanam
ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi, dan
merupakan sumber bahan organik dan hara terutama N untuk tanaman lorong. Sistem
pertanaman lorong sangat cocok untuk tanah tegalan. Untuk lahan berlereng
sebaiknya tanaman pangan ditanam mengikuti garis kontur agar fungsinya sebagai
penahan erosi dapat berjalan dengan baik (Marhendi, 2014). Menurut Marhendi
(2014) manfaat tanaman pagar dalam sistem pertanaman lorong antara lain:
1.
Sumber pupuk hijau atau
mulsa bagi tanaman pangan
2.
Pada tanah berlereng
dan ditanam mengikuti garis kontur dapat mengurangi erosi
3.
Jika digunakan tanaman
leguminosa, hasil pangkasan merupakan sumber nitrogen bagi tanaman pangan dan
dapat memperbaiki struktur tanah.
Syarat
tanaman hedgerow antara lain:
a. Tidak
menyebabkan persaingan hara, air, dan cahaya
b. Menghasilkan
bahan organik yang tinggi
c. Mampu
menambat hara dari udara
d. Tidak
merupakan inang hama atau penyakit
e. Mudah
dipelihara
Menurut
Marhendi (2014) keuntungan dari alley
cropping antara lain:
1. Permukaan
tanah akan selalu tertutup vegetasi sehingga tanah terlindung dari energi air
hujan
2. Mampu menekan
populasi hama dan penyakit serta tumbuhan penggangu
Penggunaan
Tanaman strip
Tanaman strip
merupakan suatu teknik konservasi secara vegetatif dengan menggunakan rumput
atau tanaman legume atau dengan tumbuh-tumbuhan alami. Tanaman strip di buat
sesuai dengan arah kontur yang bertujuan untuk mengurangi erosi yang jatuh ke
daerah hilir. Ada 2 macam tanaman strip yang dapat digunakan yaitu :
A.
Strip
tumbuhan alami (NVS)
Strip tumbuhan
alami (natural vegetative strips = NVS) sudah sangat berkembang di kalangan
petani di Mindanao Utara, Filipina. Di sana sistem ini diterapkan untuk tanaman
semusim terutama jagung dan padi gogo. Sistem ini pada dasarnya adalah
menyisakan sebagian lahan yang tidak disiangi dan tidak ditanami sehingga
rumput alami tumbuh membentuk strip yang kurang lebih sejajar dengan garis
kontur. Untuk tanaman pangan sistem ini berarti pengurangan sebagian kecil
(5-15%) areal penanaman tergantung kerapatan strip, namun untuk tanaman tahunan
tidak terjadi pengurangan areal tanam. Selain itu untuk tanaman pangan diperlukan
pembuatan garis kontur sebelum menyisakan penyiangan supaya strip lebih efektif
menahan laju erosi. Perlu dijaga agar strip tidak terlalu dekat dengan rumpun
tanaman kopi karena hal ini dapat menimbulkan kompetisi hara dan air antara
tumbuhan strip dengan tanaman utama (Agus, 2002).
Keuntungan strip tumbuhan alami :
·
Tidak memerlukan biaya
tambahan, malahan mengurangi kebutuhan tenaga kerja untuk penyiangan.
·
Cukup efektif
mengurangi erosi apalagi bila lereng tidak terlalu curam (<30%)
Kerugian/kendala penerapan:
·
Sebagian petani mungkin
tidak menyukai teknik ini karena seolah-olah penyiangan kebun mereka tidak
sempurna.
Wanatani
Wanatani (agroforestry)
adalah salah satu bentuk usaha konservasi tanah yang menggabungkan antara
tanaman pohonpohonan, atau tanaman tahunan dengan tanaman komoditas lain yang
ditanam secara bersama-sama ataupun bergantian. Penggunaan tanaman tahunan
mampu mengurangi erosi lebih baik daripada tanaman komoditas pertanian
khususnya tanaman semusim. Tanaman tahunan mempunyai luas penutupan daun yang
relatif lebih besar dalam menahan energi kinetik air hujan, sehingga air yang sampai
ke tanah dalam bentuk aliran batang (stemflow) dan aliran tembus (throughfall)
tidak menghasilkan dampak erosi yang begitu besar. Sedangkan tanaman semusim
mampu memberikan efek penutupan dan perlindungan tanah yang baik dari butiran
hujan yang mempunyai energi perusak. Penggabungan keduanya diharapkan dapat
memberi keuntungan ganda baik dari tanaman tahunan maupun dari tanaman semusim.
Reboisasi
Inisiatif rehabilitasi hutan
didefiisikan sebagai: Kegiatan yang
disengaja dengan tujuan regenerasi
pohon, baik secara alami maupun buatan di atas lahan berupa padang rumput, semak belukar, atau wilayah tandus
yang dulunya berhutan, dengan maksud untuk meningkatkan produktivitas, penghidupan masyarakat, dan/atau
manfaat jasa lingkungan (Tim
Rehabilitasi CIFOR, (2003) dalam Nawir, (2008). Kegiatan yang dimaksud
mencakup intervensi teknis, pembaharuan atau perubahan pengaturan
sosial-ekonomi dan kelembagaan (hak kepemilikan lahan, kebijakan, peraturan
perundangan, dan pengawasan). ‘Regenerasi pohon secara alami dan/atau buatan’,
atau setiap metode rehabilitasi yang melibatkan pohon mulai penanaman dalam
system agroforestri hingga permudaan alam yang dipercepat’(Nawir, 2008).
Lokasi
rehabilitasi yang berupa padang rumput, semak belukar, atau wilayah tandus yang
sebelumnya berhutan, mencerminkan keinginan untuk menghutankan kembali lahan
yang dulunya berhutan. Studi ini tidak mencakup rehabilitasi kawasan hutan yang
rusak atau hutan sekunder maupun reklamasi areal bekas pertambangan. Ekosistem
yang dicakup dalam studi ini dibatasi pada wilayah dataran tinggi dan dataran
rendah, tidak termasuk rawa atau lahan basah. Maksud dan tujuan dari kegiatan
rehabilitasi yang dicakup dalam studi ini berkisar dari produktivitas hingga
mata pencaharian masyarakat dan/atau manfaat lingkungan bagi semua pemangku
kepentingan(Nawir, 2008).
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S.
H. Tala’ohu, A. Dariah, B. R. Prawiradiputra, B. Hafif, dan S. Wiganda. 1999.
Teknik Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijaun
dan Reboisasi Pusat. Jakarta.
Anwar, S. 2012. Pola Tanam Tumpangsari. Agroekoteknologi. Litbang : Deptan.
Arsyad, Sitanala. 2010. Konservasi Tanah
dan Air. Edisi Kedua. IPB Press. Bogor.
Budiwati. 2015.Tanaman Penutup Tanah untuk Mencegah
Erosi. Yogyakarta : FMIPA UNY.
Fuady, Zahrul, Halus Satriawan, dan Nanda Maryami.
2014. Aliran Permukaan, Erosi dan Hara Sedimen Akibat Tindakan Konservasi Tanah
Vegetatif pada Kelapa Sawit. Jurnal Ilmu Tanah dan Agroklimatologi 11 (12).
Hidayat, Muhammad Rifqy. 2015. Kajian
Pola Pertanian Dan Upaya Konservasi Di Dataran Tinggi Dieng Kecamatan Kejajar
Kabupaten Wonosobo. Semarang : Universitas Negeri Semarang
Kurnia, U., A. Rachman., dan A. Dariah.
2004. Teknologi Konservasi Tanah Pada Lahan Kering Berlereng. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Kustantini, D. 2012. Peningkatan Produktifitas dan Pendapatan
Petani Melalui Penggunaan Pola Tanam Tumpangsari pada Produksi Benih Kapas.
Surabaya : Balai Besar Perbanihan dan Proteksi Tanaman Perkebuanan (BBP2TP).
Mardaeni., A. Munir., dan D. Useng.
2014. Skenario Penggunaan Lahan Untuk Mereduksi Erosi Berbasis Fuzzy Multi
Attribute Decision Making di DAS Jeneberang. J. Sains & Teknologi. 14(3).
Marhendi, T. 2014. Teknologi
Pengendalian Erosi Lahan. Techno. 15(1).
Nawir, Ani Adiwinata , et
al. 2008. Rehabilitasi hutan di Indonesia Akan kemanakah arahnya
setelah lebih dari tiga dasawarsa?. Bogor Barat: Center for International
Forestry Research (CIFOR).
Nurdin. 2012. Kombinasi Teknik Konsevasi
Tanah dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Jagung dan Erosi Tanah Pada Lahan Kering
di Sub DAS Biyonga Kabupaten Gorontalo. J. Tek. Ling. 13(3).
Palembang, J. N., jamilah., dan
Sarifuddin. 2013. Kajian Sifat Kimia Tanah Sawah dengan Pola Pertanaman
Padi-Semangka Desa Air Hitam Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara. Jurnal
Online Agroekoteknologi. 1(4).
Peraturan Menteri
Kehutanan. 2004. Pedoman Pembuatan Tanaman Reboisasi Hutan Lindung Dan
Hutanproduksigerakan Nasional Rehabilitasi Hutan Dan Lahan. nomor :
P.03/Menhut-V/2004tanggal : 22 Juli 2004
Setiawan, E. 2009. Kearifan Lokal Pola
Tanam Tumpangsari di Jawa Timur. Agrovigor. 2(2).
Subagyono, Kasdi, Setiari Marwanto, dan
Undang Kurnia. 2003. Teknik Konservasi Tanah secara Vegetatif. Seri Monograf
No. 1. Sumber Daya Tanah Indonesia. Balai Penelitian Tanah. Bogor.
Sutono dan Husen,dkk .2007. Teknik
Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan
Reboisasi Pusat, Jakarta : Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Badan
Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian
Thahir, S. M., Hadmadi. 1999. Tumpang Gilir. Yasaguna. Jakarta.