Kamis, 05 Januari 2017

KONSERVASI VEGETATIF



1.      MACAM KONSERVASI VEGETATIF

 Tanaman Penutup Tanah

a.      Pengertian Tanaman Penutup Tanah
Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman  kerusakan oleh  erosi atau untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.
b.      Peran Tanaman Penutup Tanah
Tanaman penutup tanah memegang peranan penting dalam mempengaruhi erosi yang terjadi. Dalam hal ini tanaman penutup tanah memberikan perlindungan terhadap tanah dari proses penghancuran agregat oleh hujan dan aliran permukaan, dengan demikian dapat membatasi kekuatan merusak dari hujan dan aliran permukaan (Morgan, 2005 dalam Fuady, dkk, 2014). Disamping itu keberadaan tanaman penutup tanah juga dapat meningkatkan sifat fisik dan kimia tanah melalui kontribusinya terhadap peningkatan kadar bahan organik tanah (Zuazo et al., 2004 dalam Fuady, dkk, 2014).
Tanaman penutup tanah berperan dalam menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi (Budiwati, 2015).
c.       Syarat tumbuhan atau tanaman penutup tanah
Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat (Osche et al, 1961 dalam Budiwati, 2015):
a)    mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji,
b)   mempunyai sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi,
c)    tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun,
d)   toleransi terhadap pemangkasan,
e)    resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan,
f)    mampu menekan pertumbuhan gulma,
g)   mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya,
h)   sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah,
i)     tidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit.
d.      Penggolongan tanaman penutup tanah
Tanaman penutup tanah atau tanaman pembantu dapat digolongkan dalam:
a)      Tanaman penutup tanah sebaiknya bertingkat, terdiri dari tanaman penutup tanah rendah, sedang (perdu) dan tinggi (pelindung). Tanaman penutup tanah rendah misalnya Ageratum conyzoides L (babandotan), Andropogon zizanoides (akar wangi), Panicum maximum (rumput benggala), Panicum ditachyum (balaban, paitan), Paspalum dilatum (rumput Australia), Pennisetum purpureum (rumput gajah), Centrosema pubescens Benth.
b)     Tanamaan penutup tanah sedang (perdu), misalnya Lantana camara L (tahi ayam), Crotalaria anagyroides HBK, Tephrosia candida DC, Tepherosia vogelii, Desmodium gyroides DC (kakatua, jalakan). Acacia villosa Wild, Sesbania grandiflora PERS (turi), Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra merah), Gliricidia maculata (gamal), Clorataria juncea (orok-orok),Cajanus cajan Nillst (kacang gude), Leucaena glauca (L) Benth (pete cina, lamtoro, kemlandingan).
c)      Tanaman penutup tanah tinggi (pelindung) misalnya Albizia falcata (sengon laut, jeunjing), Pithecellobium saman benth (pohon hujan), Erythrina sp. (dadap), Gliricidia sepium,Leucaena glauca atau Leucaena leucocephala, Albizia procera Benth, Acacia melanoxylon, Acacia mangium, Eucalyptus saligna,Cinchona succirubra,Gigantolochloa apus (bambu apus), Dendrocalamus asper (bambu betung) Bambusa vulgaris (bambu wulung).
Pemilihan tanaman penutup tanah selain memenuhi persyaratan, sebaiknya dipertimbangkan juga manfaat tanaman secara ekonomi. Dengan harapan, selain bermanfaat dalam pelestarian lingkungan, penduduk setempat bisa memperoleh penghasilan tambahan dari tanaman tersebut (Budiwati, 2015).


Penggunaan Mulsa

Mulsa adalah bahan yang diberikan pada tanah (selain pupuk) yang biasanya diberikan pada bagian permukaan. Mulsa ini terdiri dari dua jenis, yakni mulsa Organik dan juga mulsa An-Organik. Mulsa Organik yang bersal dari tumbuhan sedangkan mulsa An – organic yang bersal dari Non tumbuhan, seperti MPHP (mulsa plastic Hitam perak). Menurut Hidayat (2015), Mulsa selain dari sisa tumbuhan juga berbahan dasar plastik, batu, dan pasir. Mulsa dapat mengurangi erosi dan merendam energi hujan yang jatuh sehingga tidak merusak struktur tanah, dan mengurangi aliran permukaan. Sedangkan mulsa organik berasal dari sisa tumbuhan yang merupakan sumber energi yang akan meningkatkan kegiatan biologi tanah dan dalam proses perombakannya akan terbentuk senyawa senyawa organik.
            Sedangkan menurut Pendapat Sutono dan Husen,dkk (2007) bahwa Pemberian mulsa dimaksudkan untuk menutupi permukaan tanah agar terhindar dari pukulan butir hujan. Mulsa merupakan teknik pencegahan erosi yang cukup efektif. Jika bahan mulsa berasal dari bahan organik, maka mulsa juga berfungsi dalam pemeliharaan bahan organik tanah. Bahan organik yang dapat dijadikan mulsa dapat berasal dari sisa tanaman, hasil pangkasan tanaman pagar dari sistem pertanaman lorong, hasil pangkasan tanaman penutup tanah atau didatangkan dari luar lahan pertanian.
 Fungsi lain mulsa adalah :
• Jika sudah melapuk dapat meningkatkan kemampuan tanah menahan air sehingga air lebih tersedia untuk pertumbuhan tanaman, dan memperkuat agregat tanah.
• Mengurangi kecepatan serta daya kikis aliran permukaan.
 • Mengurangi evaporasi, memperkecil fluktuasi suhu tanah, meningkatkan jumlah pori aerasi sebagai akibat meningkatnya kegiatan jasad hidup di dalam tanah dan meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah.
 • Menyediakan sebagian zat hara bagi tanaman.
• Dianjurkan menggunakan 6 ton mulsa/ha/tahun atau lebih. Bahan mulsa yang paling mudah didapatkan adalah sisa tanaman.
• Mulsa diberikan dengan jalan menyebarkan bahan organik secara merata di permukaan tanah.
• Bahan mulsa yang baik adalah bahan yang sukar melapuk seperti jerami padi dan batang jagung.
• Mulsa dapat juga diberikan ke dalam lubang yang dibuat khusus dan disebut sebagai mulsa vertikal.

  Penanaman searah kontur (contour farming)
Bertani menurut kontur (contour farming) merupakan semua tindakan budidaya tanaman mulai dari pengolahan tanah, pengaturan barisan tanaman dan lain-lain yang dilakukan searah dengan kontur. Dengan cara ini, kekasaran permukaan akan meningkat sehingga limpasan permukaan (kecepatan dan volume) akan berkurang dan selanjutnya erosi menjadi lebih rendah.

Penerapan Pola tanam
Ø Pergiliran tanaman
Pergiliran tanaman merupakan cara penting lainnya dalam upaya konservasi tanah dan air yaitu dengan menanam berbagai jenis tanaman secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada sebidang lahan misalnya pergiliran antara tanaman pangan dengan tanaman penutup tanah atau pupuk hijau (Marhendi, 2014). Pergiliran atau rotasi tanaman yaitu merupakan salah satu pola tanam yang menanam lebih dari satu jenis tanaman yang tidak sefamili secara bergilir pada satu lahan pada satu periode penanaman dalam urutan waktu tertentu yang bertujuan untuk memutuskan siklus hidup hama dan penyakit tanaman Pergiliran tanaman adalah pola tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah dimana tanaman kedua atau berikutnya ditanam setelah tanaman pertama berbunga sehingga pada waktu tanaman pertama dipanen tanaman kedua atau berikutnya sudah  mulai tumbuh. Menurut (Mardaeni, 2014) keuntungan dari pergiliran tanaman antara lain:
·         Mengurangi resiko penurunan kesuburan tanah
Dengan adanya pergiliran tanaman misalnya Padi-Semangka, sisa tanaman semangka tetap dibenamkan dalam tanah untuk pertanaman selanjutnya, sehingga suplai bahan organik semakin besar dan lebih mudah terdekomposisi. Bahan organik dalam tanah akan mengalami transformasi dimana biota tanah akan terus menerus mengobah komponen organik dari satu bentuk ke bentuk lain. Biota tanah akan mengkonsumsi bahan organik yang kemudian menghasilkan produk sampingan, limbah dan jaringan tubuhnya sebagai sumber hara bagi tanaman. (Palembang, 2013).
·       Memotong siklus hama atau penyakit
·       Menganeka ragamkan hasil, meningkatkan hasil tanaman
·       Mengurangi laju erosi tanah
·       Mempertahankan sifat-sifat fisik tanah dengan cara mengembalikan sisa-
 sisa tanaman ke dalam tanah
Syarat dari pergiliran tanaman antara lain:
·       Tanaman yang ditanam tidak membutuhkan hara yang sama
·       Tidak mempunyai hama atau penyakit yang sama
Contoh dari pergiliran tanaman yaitu padi gogo-kacang tanah-jagung
Ø Tanaman campuran
Tanaman campuran merupakan penanaman beberapa tanaman pada sebidang lahan pada waktu yang sama. Terdapat lebih dari satu tanaman yang dianggap sebagai tanaman utama. Tanaman campuran merupakan penanaman jenis tanaman campuran yang ditanam pada lahan dan waktu yang sama atau jarak waktu tanam yang singkat, tanpa pengaturan jarak tanam dan penentuan jumlah populasi. Kegunaan sistem ini dapat menekan kegagalan panen total (Kustantini, 2012).
Ø Tumpangsari
Tumpangsari merupakan penanaman beberapa tanaman pada sebidang lahan pada waktu yang sama. Pada tumpangsari ada tanaman yang dianggap sebagai tanaman utama dan tanaman sela. Tumpangsari adalah penanaman lebih dari satu tanaman pada waktu atau periode tanam yang bersamaan pada lahan yang sama (Thahir, 1999). Tumpangsari merupakan pola tanam polikultur dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalma periode waktu tanam yang sama (Anwar, 2012). Menurut Setiawan (2009) Keuntungan dari tumpangsari antara lain:
a.     Tajuk cepat menutup lahan sehingga dapat menurunkan erosi
b.    Mempertahankan kesuburan tanah
c.     Memperkecil resiko kegagalan panen
Syaratnya yaitu:
a.     Tidak mempunyai kebutuhan hara dan tajuk yang sama
b.    Diusahakan salah satu tanaman dapat menambah hara
c.     Tidak mempunyai hama atau penyakit yang sama
Contohnya: ubikayu + jagung; tebu + cowpea
Ø Strip cropping
Pertanaman dalam strip (strip cropping) yaitu pola tanam dengan menanam beberapa jenis tanaman secara berselang seling dalam strip-strip pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut garis kontur (Marhendi, 2014). Tanaman yang ditanam biasanya tanaman pangan atau tanaman semusim diselingi dengan strip-strip tanaman penutup tanah yang tumbuh cepat dan rapat untuk pupuk hijau. Keuntungan dari strip cropping ini adalah dapat menekan laju erosi tanah (Nurdin, 2012). Terdapat tiga tipe penanaman dalam strip yaitu:
1.      Penanaman dalam strip menurut kontur berupa susunan strip-strip yang tepat menurut garis kontur dengan urutan pergiliran tanaman yang tepat
2.      Penanaman dalan strip lapangan berupa strip-strip tanaman yang lebarnya seragam dan disusun melintang arah lereng
3.      Penanaman dalam strip berpenyangga berupa strip-strip rumput atau leguminosa yang dibuat di antara strip-strip tanaman pokok menurut kontur.

Menurut Marhendi (2014) pada pengelolaan lahan dalam strip ini tanah diolah searah garis kontur:
1.    Setiap lajur ditanami dengan satu jenis tanaman
2.    Lajur-lajur dibuat memotong lereng atau searah kontur
3.    Tanaman pangan atau tanaman semusim ditanam secara berselang-seling dengan tanaman pupuk hijau atau tanaman penutup tanah yang ditanam secara rapat.
Ø Alley cropping
Tanaman lorong (alley cropping) adalah bentuk khusus strip cropping dimana sebagai tanaman stripnya adalah tanaman pohon yang disebut hedgerow (tanaman pagar) sedangkan tanaman pangan ditanam di antara 2 baris tanaman pagar disebut pula sebagai tanaman lorong (Kurnia, 2004). Sistem pertanaman lorong atau alley cropping  adalah suatu sistem dimana tanaman pagar pengontrol erosi berupa barisan tanaman yang ditanam rapat mengikuti garis kontur sehingga membentuk lorong-lorong dan tanaman semusim berada di antara tanaman pagar tersebut. Sistem pertanaman lorong merupakan suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar. Pola tanam ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi, dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama N untuk tanaman lorong. Sistem pertanaman lorong sangat cocok untuk tanah tegalan. Untuk lahan berlereng sebaiknya tanaman pangan ditanam mengikuti garis kontur agar fungsinya sebagai penahan erosi dapat berjalan dengan baik (Marhendi, 2014). Menurut Marhendi (2014) manfaat tanaman pagar dalam sistem pertanaman lorong antara lain:
1.         Sumber pupuk hijau atau mulsa bagi tanaman pangan
2.         Pada tanah berlereng dan ditanam mengikuti garis kontur dapat mengurangi erosi
3.         Jika digunakan tanaman leguminosa, hasil pangkasan merupakan sumber nitrogen bagi tanaman pangan dan dapat memperbaiki struktur tanah.
Syarat tanaman hedgerow antara lain:
a.     Tidak menyebabkan persaingan hara, air, dan cahaya
b.    Menghasilkan bahan organik yang tinggi
c.     Mampu menambat hara dari udara
d.    Tidak merupakan inang hama atau penyakit
e.     Mudah dipelihara
Menurut Marhendi (2014) keuntungan dari alley cropping antara lain:
1.    Permukaan tanah akan selalu tertutup vegetasi sehingga tanah terlindung dari energi air hujan
       2. Mampu menekan populasi hama dan penyakit serta tumbuhan penggangu 


Penggunaan Tanaman strip
Tanaman strip merupakan suatu teknik konservasi secara vegetatif dengan menggunakan rumput atau tanaman legume atau dengan tumbuh-tumbuhan alami. Tanaman strip di buat sesuai dengan arah kontur yang bertujuan untuk mengurangi erosi yang jatuh ke daerah hilir. Ada 2 macam tanaman strip yang dapat digunakan yaitu :
A.    Strip tumbuhan alami (NVS)
Strip tumbuhan alami (natural vegetative strips = NVS) sudah sangat berkembang di kalangan petani di Mindanao Utara, Filipina. Di sana sistem ini diterapkan untuk tanaman semusim terutama jagung dan padi gogo. Sistem ini pada dasarnya adalah menyisakan sebagian lahan yang tidak disiangi dan tidak ditanami sehingga rumput alami tumbuh membentuk strip yang kurang lebih sejajar dengan garis kontur. Untuk tanaman pangan sistem ini berarti pengurangan sebagian kecil (5-15%) areal penanaman tergantung kerapatan strip, namun untuk tanaman tahunan tidak terjadi pengurangan areal tanam. Selain itu untuk tanaman pangan diperlukan pembuatan garis kontur sebelum menyisakan penyiangan supaya strip lebih efektif menahan laju erosi. Perlu dijaga agar strip tidak terlalu dekat dengan rumpun tanaman kopi karena hal ini dapat menimbulkan kompetisi hara dan air antara tumbuhan strip dengan tanaman utama (Agus, 2002).
Keuntungan strip tumbuhan alami :
·         Tidak memerlukan biaya tambahan, malahan mengurangi kebutuhan tenaga kerja untuk penyiangan.
·         Cukup efektif mengurangi erosi apalagi bila lereng tidak terlalu curam (<30%)

Kerugian/kendala penerapan:
·         Sebagian petani mungkin tidak menyukai teknik ini karena seolah-olah penyiangan kebun mereka tidak sempurna.
  

Wanatani
Wanatani (agroforestry) adalah salah satu bentuk usaha konservasi tanah yang menggabungkan antara tanaman pohonpohonan, atau tanaman tahunan dengan tanaman komoditas lain yang ditanam secara bersama-sama ataupun bergantian. Penggunaan tanaman tahunan mampu mengurangi erosi lebih baik daripada tanaman komoditas pertanian khususnya tanaman semusim. Tanaman tahunan mempunyai luas penutupan daun yang relatif lebih besar dalam menahan energi kinetik air hujan, sehingga air yang sampai ke tanah dalam bentuk aliran batang (stemflow) dan aliran tembus (throughfall) tidak menghasilkan dampak erosi yang begitu besar. Sedangkan tanaman semusim mampu memberikan efek penutupan dan perlindungan tanah yang baik dari butiran hujan yang mempunyai energi perusak. Penggabungan keduanya diharapkan dapat memberi keuntungan ganda baik dari tanaman tahunan maupun dari tanaman semusim.

  Reboisasi
Inisiatif rehabilitasi hutan didefiisikan sebagai: Kegiatan yang disengaja dengan tujuan regenerasi pohon, baik secara alami maupun buatan di atas lahan berupa padang rumput, semak belukar, atau wilayah tandus yang dulunya berhutan, dengan maksud untuk meningkatkan produktivitas, penghidupan masyarakat, dan/atau manfaat jasa lingkungan (Tim Rehabilitasi CIFOR, (2003) dalam Nawir, (2008). Kegiatan yang dimaksud mencakup intervensi teknis, pembaharuan atau perubahan pengaturan sosial-ekonomi dan kelembagaan (hak kepemilikan lahan, kebijakan, peraturan perundangan, dan pengawasan). ‘Regenerasi pohon secara alami dan/atau buatan’, atau setiap metode rehabilitasi yang melibatkan pohon mulai penanaman dalam system agroforestri hingga permudaan alam yang dipercepat’(Nawir, 2008).
Lokasi rehabilitasi yang berupa padang rumput, semak belukar, atau wilayah tandus yang sebelumnya berhutan, mencerminkan keinginan untuk menghutankan kembali lahan yang dulunya berhutan. Studi ini tidak mencakup rehabilitasi kawasan hutan yang rusak atau hutan sekunder maupun reklamasi areal bekas pertambangan. Ekosistem yang dicakup dalam studi ini dibatasi pada wilayah dataran tinggi dan dataran rendah, tidak termasuk rawa atau lahan basah. Maksud dan tujuan dari kegiatan rehabilitasi yang dicakup dalam studi ini berkisar dari produktivitas hingga mata pencaharian masyarakat dan/atau manfaat lingkungan bagi semua pemangku kepentingan(Nawir, 2008). 



DAFTAR PUSTAKA

Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S. H. Tala’ohu, A. Dariah, B. R. Prawiradiputra, B. Hafif, dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijaun dan Reboisasi Pusat. Jakarta.
Anwar, S. 2012. Pola Tanam Tumpangsari. Agroekoteknologi. Litbang : Deptan.
Arsyad, Sitanala. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Edisi Kedua. IPB Press. Bogor.
Budiwati. 2015.Tanaman Penutup Tanah untuk Mencegah Erosi. Yogyakarta : FMIPA UNY.
Bunuwa, L. S. 2013. Erosi. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Fuady, Zahrul, Halus Satriawan, dan Nanda Maryami. 2014. Aliran Permukaan, Erosi dan Hara Sedimen Akibat Tindakan Konservasi Tanah Vegetatif pada Kelapa Sawit. Jurnal Ilmu Tanah dan Agroklimatologi 11 (12).
Hidayat, Muhammad Rifqy. 2015. Kajian Pola Pertanian Dan Upaya Konservasi Di Dataran Tinggi Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Semarang : Universitas Negeri Semarang
Kurnia, U., A. Rachman., dan A. Dariah. 2004. Teknologi Konservasi Tanah Pada Lahan Kering Berlereng. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Kustantini, D. 2012. Peningkatan Produktifitas dan Pendapatan Petani Melalui Penggunaan Pola Tanam Tumpangsari pada Produksi Benih Kapas. Surabaya : Balai Besar Perbanihan dan Proteksi Tanaman Perkebuanan (BBP2TP).
Mardaeni., A. Munir., dan D. Useng. 2014. Skenario Penggunaan Lahan Untuk Mereduksi Erosi Berbasis Fuzzy Multi Attribute Decision Making di DAS Jeneberang. J. Sains & Teknologi. 14(3).
Marhendi, T. 2014. Teknologi Pengendalian Erosi Lahan. Techno. 15(1).
Nawir, Ani Adiwinata , et al. 2008. Rehabilitasi hutan di Indonesia Akan kemanakah arahnya setelah lebih dari tiga dasawarsa?. Bogor Barat: Center for International Forestry Research (CIFOR).
Nurdin. 2012. Kombinasi Teknik Konsevasi Tanah dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Jagung dan Erosi Tanah Pada Lahan Kering di Sub DAS Biyonga Kabupaten Gorontalo. J. Tek. Ling. 13(3).
Palembang, J. N., jamilah., dan Sarifuddin. 2013. Kajian Sifat Kimia Tanah Sawah dengan Pola Pertanaman Padi-Semangka Desa Air Hitam Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara. Jurnal Online Agroekoteknologi. 1(4).
Peraturan Menteri Kehutanan. 2004. Pedoman Pembuatan Tanaman Reboisasi Hutan Lindung Dan Hutanproduksigerakan Nasional Rehabilitasi Hutan Dan Lahan. nomor : P.03/Menhut-V/2004tanggal : 22 Juli 2004
Setiawan, E. 2009. Kearifan Lokal Pola Tanam Tumpangsari di Jawa Timur. Agrovigor. 2(2).
Subagyono, Kasdi, Setiari Marwanto, dan Undang Kurnia. 2003. Teknik Konservasi Tanah secara Vegetatif. Seri Monograf No. 1. Sumber Daya Tanah Indonesia. Balai Penelitian Tanah. Bogor.
Sutono dan Husen,dkk .2007. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat, Jakarta : Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian
Thahir, S. M., Hadmadi. 1999. Tumpang Gilir. Yasaguna. Jakarta.