Rabu, 12 Oktober 2016

SISTEM IRIGASI SAWAH

1.      PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang


Indonesia terletak di wilayah muson tropis sehingga keberadaan air sangat khas. Masyarakat Indonesia sejak awal telah akrab dengan budaya pengairan. sehingga disebut masyarakat hidrolik. Usaha pemerintah untuk mencapai tujuan dalam produksi komoditas pertanian dengan menerapkan teknologi baru dan pemanfaatan lahan potensial untuk meningkatkan produksi. Irigasi terjaminnya penyediaan air irigasi memiliki arti penting dalam produksi komoditas pertaian salah satunya yaitu komoditas padi yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena bibit unggul, pupuk, pestisida dan cara bercocok tanam yang baik akan memberikan hasil tinggi jika air irigasinya cukup tersedia dan pemberian air dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Di samping itu juga bermanfaat dalam memperluas areal tanaman, menambah jumlah tanam per tahun dan meningkatkan produktivitas lahan per hektar. Pada dasarnya, air perlu diatur agar pemberiannya pada lahan tepat jumlah dan waktu. Secara teknis, irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi air permukaan, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa dan irigasi rawa. Pembangunan saluran irigrasi sebagai penunjang penyediaan bahan pangan nasional tentu sangat diperlukan, sehingga ketersediaan lahan akan terpenuhi walaupun lahan tersebut berada jauh dari sumber air permukaan. Perhitungan jumlah keperluan air bagi kelangsungan hidup tanaman atau sering diistilahkan dengan modulus irigasi, adalah merupakan suatu tahapan perhitungan yang mengawali perancangan suatu sistem irigasi baik yang bersifat terbuka dengan mengandalkan hukum gravitasi maupun yang bersifat tertutup dengan perpipaan yang dilengkapi dengan teknik pemompaan untuk dapat memberikan tekanan yang cukup bagi pangaliran airnya. Modulus irigasi suatu tanaman, didalam perhitungannya belum memasukkan factor efisiensi karena kehilangan air akibat sistem irigasi yang digunakan seperti evaporasi, perkolasi dan lainnya.

1.2              Tujuan


1.      Untuk mengetahui sistem irigasi yang digunakan petani
2.      Untuk mengetahui pemilihan sistem irigasi berdasarkan 3 pertimbangan


2.    PEMBAHASAN

2.1   Pertimbangan Pemilihan Sistem Irigasi

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakuka di Desa Sumbersekar, untuk memilih sistem irigasi yang tepat harus berdasarkan 3 pertimbangan, yaitu.
1.      Pertimbangan Fisik
a.       Kondisi Tanah
Tanah pada lahan yang kami survei memiliki tekstur dominan lempung. tekstur yang biasa dijumpai untuk tanaman padi. Tanah tersebut juga memiliki kegemburan yang tinggi yang dicirikan dengan mudahnya tanah tersebut hancur ketika di remas oleh tangan. Tingkat erosi tanah pada lahan tersebut juga cukup rendah, mengingat lahan tersebut terletak pada lahan yang datar. Irigasi yang digunakan pada lahan tersebut adalah irigasi permukaan (bassin).
b.      Jenis Tanaman
Jenis tanaman yang dibudidayakan petani yaitu tanaman padi. Tanaman padi merupakan komoditas utama di daerah Desa Sumbersekar. Petani memilih menanam komoditas padi karena nilai ekonomis yang tinggi. Sistem irigasi yang digunakan untuk tanaman padi biasanya adalah sistem irigasi permukaan berupa basin.
c.       Ketersediaan air
berdasar hasil wawancara dan pengamatan kami, bahwa status ketersediaan air di lahan adalah cukup tersedia. Sumber air didapakan dari sungai di sekitar lahan pera]tanian. Meskipun status air dikatakan tersedia namun dalam pola pengaturan irigasi tetap saja diberlakukan penjadwalan pengairan pada petak lahan. Aturan ini bertujuan untuk menjaga status ketersediaan air dan juga mengontrol penggunaan airn yang dilakukan secara berlebihan oleh petani.
d.      Keadaan Iklim
Secara geografis Desa Sumbersekar terletak pada posisi 07˚49.113” Lintang Selatan dan 112˚33’56.285 Bujur Timur. Topografi ketinggian Desa ini adalah berupa dataran sedang yaitu sekitar 650 m di atas permukaan air laut dan memiliki rentangan suhu 22°C - 26°C. kondisi iklim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Berdasarkan data BPS Kabupaten Malang tahun 2014, selama tahun 2014 curah hujan di Desa Sumbersekar rata-rata mencapai 1.100 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 405,04 mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama kurun waktu 2004-2014. Hal ini sesuai dengan tanaman padi yang dapat tumbuh dengan rata–rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat di tanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0 – 650 m dpl dengan temperatur 22 – 27o C.
Tanaman padi memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman padi yaitu dalam penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman Temperatur sangat mempengaruhi pengisian biji padi. Temperatur yang rendah dan kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan mengganggu proses pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Hal ini terjadi akibat tidak membukanya bakal biji. Temperatur yang juga rendah pada waktu isi dapat menyebabkan rusaknya pollen dan menunda pembukaan tepung sari. Tanaman padi dapat hidup dengan baik di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Dengan kata lain, padi dapat hidup baik di daerah beriklim panas yang lembab (Luh, 1991).
e.       Topografi
Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identitas jenis lahan. Relief adalah bentuk permukaan suatu lahan yang dikelompokkan atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitude) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Sedang topografi secara kualitatif adalah   bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat), arah lereng, panjang lereng dan bentuk lereng. Topografi ketinggian Desa Sumbersekar ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 650 m di atas permukaan air laut.
f.       Kondisi Lahan
Luas Wilayah Desa Sumbersekar adalah 435,70 Ha. Luas lahan yang ada terbagi kedalam beberapa peruntukan, yang dapat dikelompokkan seperti untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian, perkebunan,   kegiatan ekonomi dan lain-lain. Luas lahan yang diperuntukkan untuk pertanian adalah 93,5 Ha. Luas lahan untuk ladang tegalan dan perkebunan adalah  192,05 Ha. Wilayah Desa Sumbersekar secara umum mempunyai ciri geologis berupa lahan tanah hitam yang sangat cocok sebagai lahan pertanian dan perkebunan.

2.      Pertimbangan ekonomi
Air irigasi merupakan sumberdaya pertanian yang sangat strategis. Berbeda dengan input lain seperti pupuk dan pestisida yang dimensi produksinya relative terbatas pada proses produksi yang telah dipilih, peranan air rigasi mempunyai dimensi yang lebih luas. Secara garis besar ada tiga simpul strategis yang tercakup dalam peningkatan efisiensi irigasi. Pertama, pengembangan persepsi publik bahwa air irigasi adalah barang ekonomi yang berharga. Kedua, berdasarkan prinsip itu dikembangkan insentif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya tersebut atau optimasi pola pengusahaan komoditas pertanian berdasarkan air yang tersedia. Ketiga, kebijakan yang ditujukan untuk mengantisipasi dampak negatif yang terjadi karena implikasinya terhadap pasokan pangan tidak selalu sinergis dengan upaya pengurangan kemiskinan.
Lokasi pengamatan berada di Desa Dau, Sumbersekar Kabupaten Malang. Memilih sistem irigasi adalah penting dengan pertimbangan salah satunya aspek ekonomi. Pada lahan ini, bapak petani memilih sistem irigasi permukaan bassin. Pertimbangan ekonomi meliputi biaya operasi pemeliharaan, tenaga kerja, dan peralatan.
Di Indonesia, metode yang digunakan dalam menentukan tarif air irigasi di hampir semua wilayah irigasi teknis adalah per area unit. Aplikasi volumetric pricing dapat dijumpai dalam sistem irigasi pompa dimana volume penggunaan dapat diproksi dari durasi pemompaan (Sumaryanto, 2000). Selama ini penentuan biaya irigasi yang dibebankan kepada petani di beberapa wilayah pesawahan irigasi teknis yang dibangun oleh pemerintah menggunakan pendekatan dari sisi penyediaan (supply management). Iuran Pelayanan Air Irigasi (IPAIR) dihitung berdasarkan biaya operasi dan pemeliharaan irigasi (di petak tertier) ditambah dengan biaya pengumpulannya. Dengan pertimbangan bahwa pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana irigasi, IPAIR tersebut bersifat selektif sehingga baru diterapkan di beberapa wilayah yang telah dianggap maju. Nilai air irigasi tersebut di atas dipengaruhi oleh produktivitas usahatani dan harga-harga keluaran maupun masukan usahatani masing-masing komoditas yang sifatnya lokal spesifik. Petani yang menanam komoditas yang mengkonsumsi air lebih banyak akan menanggung biaya irigasi yang lebih tinggi, dan sebaliknya yang mengusahakan tanaman yang mengkonsumsi air lebih sedikit akan terbebani biaya irigasi yang lebih rendah. Sehingga petani akan mempertimbangkan jenis komoditas yang akan ditanam berdasarkan biaya irigasi juga.
Pada luas lahan 2 ha dengan jarak tanam 25 x 25 cm didapatkan jumlah tanaman padi 320.000 tanaman, dengan sistem tanam SRI. Harga panen padi tiap kg sebesar Rp. 4.000/kg. Dalam 2 ha luas lahan, bapak petani dapat menghasilkan 14 ton padi dalam satu kali masa tanam apabila menggunakan sistem tanam SRI. Sehingga dalam 2 ha pendapatan petani dapat mencapai hingga Rp. 56.000.000 dalam satu kali masa tanam. Jika dilihat surface irrigation (basin) tidak membutuhkan biaya yang terlalu banyak. Namun dari hasil tersebut belum dikurangi biaya kerugian yang tak terduga, pajak, perawatan tambahan dalam budidaya dan sebagainya. Jika melihat dari kondisi lahan bapak Sugito, lahan sawah yang dikelolanya untuk proses budidaya sangat cocok untuk menggunakan sistem irgasi surface. Pemilihan teknik irigasi dengan kondisi lahan basah dan tersedianya air memang menjadi langkah yang cocok untuk pak sugito dalam membudidayakan tanaman padi.

3.      Pertimbangan sosial
a.       Ketersediaan tenaga kerja
Dalam pengapliksian irigasi ini, ketersediaan tenaga kerja dapat dikatakan tersedia namun sepertinya tidak diperlukan penambahan tenaga kerja dari luar karena berdasar hasil wawancara, pengaplikasian irigasi sebelumnya cukup hanya dengan menggunakan tenaga kerja dari dalam keluarga. Namun jika dirasa membutuhkan tambahan tenaga kerja maka system yang digunakan adalah sistem upah.
b.      Ketrampilan dan pengetahuan petani tentang sistem irigasi
Penyuluhan pertanian bisa menjadi sarana kebijaksanaaan yang efektif untuk mendorong pembangunan pertanian dalam situasi petani tidak mampu mencapai tujuannya karena keterbatasan pengetahuan dan wawasan. Sebagai sarana kebijakan hanya jika sejalan dengan kepentingan pemerintah atau organisasi yang mendanai jasa penyuluhan guna mencapai tujuan petani tersebut. Dalam hal ini, Petugas Penyuluh Lapang harus memainkan peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kompetensi petani. Mereka juga diharapkan memainkan peranan baru, seperti memperkenalkan pertanian yang berkelanjutan yang menuntut ketrampilan. Kebanyakan Petugas Penyuluh Lapang bernaung di bawah organisasi resmi seperti departemen (pemerintah), perguruan tinggi, atau perusahaan komersil lainnya. Selain pengaruh dari kebijakan pemerintah, peran Petugas Penyuluh Lapang sangat domian dalam menopang efektifitas penyuluhan. Petugas Penyuluh Lapang harus memiliki keahlian dalam bidang pertanian yang berkompeten, disamping bisa berkomunikasi secara efektif dengan petani serta dapat mendorong minat belajar mereka, para penyuluh pertanian harus berorientasi kepada masalah yang dihadapi petani, sesuai dengan kenyataan dan pemahaman mereka. Penyuluh diharapkan mempunyai wawasan yang luas tentang dunia sekelilingnya sehingga dapat menafsirkan rangsangan dan pesan-pesan yang diterima. ( Soeharto, 2005).
Salah satu aspek yang sangat penting dalam kegiatan penyuluhan pertanian adalah penerapan metode penyuluhan. Aspek ini perlu diperhatikan sebab pengetahuan dan kemampuan petani sasaran dalam memahami suatu inovasi pada umumnya sangat terbatas (Ibrahim et all, 2003). Dalam hal ini, seorang Petugas Penyuluh Lapang dituntut untuk menguasai banyak metode penyuluhan sehingga perubahan kondisi petani sasaran dapat direspon oleh Petugas Penyuluh Lapang dengan memilih dan menerapkan metode penyuluhan yang sesuai sehinga informasi yang disampaikan dapat diterima dan diterapkan petani.
Pada desa sumbersekar ini petani sering mendapatkan penyuluhan dan pada desa ini menjadi Wilayah Binaan (WiBi) Balai Penyuluhan Pertanian kecamatan Dau, kabupaten Malang. Desa Sumbersekar memiliki area sawah dengan irigasi teknis terluas yaitu seluas 96 Ha atau 19,5% dari total lahan sawah di Kecamatan Dau. Jadi pengetahuan petani tentang teknologi budidaya pertanian dan irigasi sudah cukup memahami dan system irigasi yang digunakan pada daerah tersebut terorganisasi dengan baik . Akan tetapi lahan irigasi juga tidak lepas dari kendala yaitu pengairan tidak lancar, dikarenakan sumber air mengering dan musim kemarau yang lebih panjang.

2.2   Sistem irigasi yang digunakan petani

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, Bapak Sugito mengunakan sistem irigasi permukaan basin pada lahan padi miliknya. Hal tersebut sudah dianggap sesuai untuk tanaman padi karena dengan irigasi tersebut maka kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman padi akan terpenuhi. Padi memerlukan air dalam jumlah yang lebih banyak dibandingakan dengan tanaman lain. Padi memerlukan penggenangan air di masa awal pertumbuhan khsusunya untuk pembentukan anakan. Bila air yang diperlukan dalam jumlah yang kurang maka pertumbuhan anakan tidak bisa maksimal sehingga pembentukan bulir padi juga tidak bisa maksimal yang akan mengurangi hasil panen.
Irigasi Permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung di sungai melalui bangunan bendung maupun melalui bangunan pengambilan bebas (free intake) kemudian air irigasi dialirkan secara gravitasi melalui saluran sampai ke lahan pertanian. Dua syarat penting untuk mendapatkan sistim irigasi permukaan yang efisien, yaitu perencanaan sistim distribusi air untuk mendapatkan pengendalian aliran air irigasi dan perataan lahan (land grading) yang baik, sehingga penyebaran air seragam ke seluruh petakan.
Kelebihan Irigasi Permukaan 
1.      Tidak membutuhkan pemahaman yang tinggi 
2.      Dapat dikembangkan dengan biaya investasi kecil
3.      Jika topografi tidak terlalu bergelombang, biaya yang diperlukan tidak terlalu besar 
4.      Energi yang digunakan berupa energi gravitasi
5.      Kurang dipengaruhi oleh karakteristik iklim dan kualitas air
6.       Aliran gravitasi memiliki fleksibititas tinggi dan relatif mudah dikelola 
7.      Salinitas lebih mudah dikendalikan

Kelemahan Irigasi Permukaan 
1.      Efisiensi kurang dari 45%
2.      Membutuhkan air dalam jumlah besar
3.      Perkiraan jumlah air irigasi yang dibutuhkan lebih sulit 
4.      Membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dan lebih intensif
5.      Dipelukan desain lahan yang hati-hati agar air tersebar merata

Pada irigasi permukaan basin, lahan dibagi menjadi petakan-petakan kecil yang hampir datar. Pematang sekeliling petakan dibentuk untuk menahan air irigasi supaya tergenang di petakan dan berinfiltrasi. Dalam irigasi padi sawah atau untuk keperluan pencucian garam tanah (leaching) diperlukan tinggi genangan tertentu selama periode tertentu, sehingga pemberian air biasanya kontinyu (Kay, 1986).
Gambar 2. Irigasi basin pada padi sawah dengan galengan/pematang sebagai batas aliran

Ukuran basin beragam mulai dari 1 m2 sampai 1 atau 2 ha. Jika lahan dapat didatarkan secara ekonomis, maka bentuk basin biasanya segi-empat. Tetapi jika topografinya bergelombang maka pematang dibuat mengikuti kontur. Biasanya beda elevasi antar pematang bervariasi dari 6 ~ 12 cm untuk tanaman palawija dan 15 ~ 30 cm untuk tanaman padi (Meijer, 1990).
Gambar 3. Irigasi basin pada lahan miring disebut juga sebagai teras bangku datar untuk tanaman padi
Ukuran basin tergantung pada debit yang tersedia, ukuran pemilikan lahan dan karaktersitik infiltrasi. Untuk irigasi buah-buahan biasanya dibuat basin berbentuk lingkaran atau segi-empat pada setiap pohon. Pada irigasi basin padi sawah dengan konsolidasi lahan bentuk petakan dibuat teratur segi-empat, sedangkan tanpa konsolidasi lahan bentuk petakan mengikuti garis kontur alami.
Konsolidasi lahan merupakan salah satu bentuk kegiatan pengelolaan tata guna lahan melalui pengaturan kembali penggunaan lahan ( Kementerian pertanian, 2011). Langkah operasional konsolidasi dilakukan  dalam beberapa tahapan, yakni (a) pengaturan kembali letak sawah dengan bentuk dan  petak tertentu, disesuaikan dengan sistem irigasi dan drainasenya; (b) perencanaan jalan  usaha tani; (c) perencanaan perbaikan lapisan kedap (hard pan) untuk peningkatan daya  sanggah (bearing capacity) bagi alat dan mesin pertanian; (d) perencanaan sistem irigasi dengan pembangunan saluran primer hingga kuarter serta pengaturan pemberian air pada pertanaman; dan (e) perencanaan sistem drainase untuk pelepasan air pada petakan hingga  saluran pembuangan

Gambar 4. Irigasi basin padi sawah, sebelah kiri sesudah konsolidasi lahan, sebelah kanan tanpa konsolidasi lahan


3.    KESIMPULAN


Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, Bapak Sugito mengunakan sistem irigasi permukaan basin pada lahan padi miliknya. Hal tersebut sudah dianggap sesuai untuk tanaman padi karena dengan irigasi tersebut maka kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman padi akan terpenuhi. Padi memerlukan air dalam jumlah yang lebih banyak dibandingakan dengan tanaman lain. Padi memerlukan penggenangan air di masa awal pertumbuhan khsusunya untuk pembentukan anakan. Bila air yang diperlukan dalam jumlah yang kurang maka pertumbuhan anakan tidak bisa maksimal sehingga pembentukan bulir padi juga tidak bisa maksimal yang akan mengurangi hasil panen.
Pada irigasi permukaan basin, lahan dibagi menjadi petakan-petakan kecil yang hampir datar. Pematang sekeliling petakan dibentuk untuk menahan air irigasi supaya tergenang di petakan dan berinfiltrasi. Dalam irigasi padi sawah atau untuk keperluan pencucian garam tanah (leaching) diperlukan tinggi genangan tertentu selama periode tertentu, sehingga pemberian air biasanya kontinyu.



4.    DAFTAR PUSTAKA


Ibrahim J.T., A. Sudiyono dan Harpowo. 2003. Komunikasi dan Penyuluhan Pertanian. Penerbit Bayumedia Publishing dan UMM Pers. Malang
Kay, M., 1986. Surface Irrigation, System and Practice. Cranfield Press.UK
Kementerian Pertanian. 2011. Pedoman Teknis Konsolidasi Pengelolaan Lahan Usaha tani  (Consolidated Land). Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan, Ditjen Prasarana  dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian. Jakarta.
Luh,B.S.1991.Rice.Second Edition. Van nostrand reinhold. New York
Meijer, T.K.E., 1990. Design of Smallholders Irrigation Systems. Wageningen Agricultural University, The Netherlands.
Soeharto, N.P. 2005. Program Penyuluhan Pertanian. LP3ES. Yogjakarta.
Sumaryanto dan Bonar M. Sinaga. 2000. Estimasi nilai ekonomi air irigasi dan strategi pemanfaatannya dalam penentuan iuran irigasi. Pusat penelitian sosek badan litbang pertanian dan IPB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar