Sabtu, 17 Desember 2016

Interaksi Agroekosistem di Malang

Interaksi Agroekosistem di Waduk Selorejo 
Kecamatan Ngantang Kabupten Malang, Jawa Timur

Waduk Selorejo merupakan salah satu badan air yang terjadi akibat pembendungan Sungai Konto, Sungai Kwayangan dan Sungai Pinjal. Waduk tersebut berada. Waduk Selorejo dikelola oleh Perum Jasa Tirta I terletak di Desa Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang dengan luas genangan air mencapai 400 ha. Fungsi awal dari waduk ini adalah sebagai sumber irigasi dan pembangkit tenaga listrik. Perkembangan selanjutnya waduk ini dijadikan sebagai taman wisata air.
Suasana Kecamatan Ngantang yang identik dengan jalan berkelok dan naik turun, hutan, sawah dan sungai serta hawa yang sejuk menyimpan banyak potensi didalamnya. Letak Kecamatan Ngantang yang berada diantara bukit Selokurung, Gunung Arjuno dan Gunung Kelud membuatnya menyimpan banyak potensi alam. Ngantang lebih dikenal masyarakat luas dengan orang Waduk Selorejo atau orang kampung durian. Karena seperlima wilayah Kecamatan Ngantang adalah Waduk Selorejo dan sepersepuluh tanahnya ditanami buah durian. Selain itu hamparan sawah juga masih terlihat sangat luas di Kecamatan Ngantang sehubungan dengan profesi masyarakatnya yang mayoritas adalah petani, peternak dan nelayan. 
Eceng gondok yang menutupi hampir sebagian waduk

Namun keindahan Waduk Selorejo kini sudah dalam keadaan memprihatinkan. Banyak enceng gondok (Eichornia crassipes) yang tumbuh menutupi hampir separuh luasan waduk. Eceng gondok merupakan gulma air yang dapat menghambat produktivitas perairan tawar. Populasi ikan dapat berkurang disebabkan oleh proses eutrofikasi. Penetrasi sinar matahari berkurang karena terhalang oleh eceng gondok sehingga fitoplankton tidak dapat melakukan fotosintesis. Hal ini mengakibatkan produksi O2 dalam air menurun dan ikan-ikan akan mati. Tanaman hama enceng gondok ini tidak saja mengganggu aktivitas warga dan petani di sekitar waduk namun juga  membahayakan keselamatan perahu untuk wisata air serta dalam kerimbunan enceng gondok menjadi sarang tikus dan nyamuk.
Pertumbuhan enceng gondok dipengaruhi oleh penggunaan pupuk kimia dari sawah petani serta kotoran sapi perah yang mengalir ke Kali Konto. Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat terbawa oleh air hujan dan masuk ke perairan sehingga kesuburan di perairan dapat meningkat. Akibatnya tumbuhan air seperti enceng gondok mengalami pertumbuhan yang begitu pesat sehingga memungkinkan untuk tidak terkendali. Selain itu, tumbuhan enceng gondok yang mati mengakibatkan pendangkalan. Pada proses penguraian tumbuhan enceng gondok yang mati dibutuhkan oksigen yang banyak. Akibatnya, kandungan oksigen di perairan semakin sedikit sehingga banyak makhluk hidup di perairan kekurangan oksigen dan akhirnya ikut mati.
terjadi pendangkalan waduk
Selain pertumbuhan enceng gondok, kondisi waduk juga mengalami sedimentasi. Sedimentasi tersebut diakibatkan oleh kegiatan pertanian di hulu. Pembukaan lahan di sekitar waduk sebagai alih fungsi lahan untuk kegiatan pertanian dan perumahan mengakibatkan mudahnya terjadi erosi.

Kegiatan pertanian yang intensif hingga melakukan pembukaan lahan hutan, dapat mengakibatkan berbagai dampak di waduk selorejo. Erosi yang terjadi mengakibatkan sedimentasi hingga mengurangi luasan dan kedalaman waduk. Serta penggunaan pupuk kimia anorganik untuk pertanian yang berlebih dapat mengakibatkan pencemaran air akibat pencucian pupuk kimia anorganik. Pupuk anorganik yang tercuci tersebut akan terbawa ke waduk sehingga mengakibatkan pertumbuhan gulma enceng gondok yang dapat menutupi luasan permukaan waduk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar