Selasa, 28 Oktober 2014

PENINGKATAN PRODUKTIFITAS BUAH PISANG (Musa sp.)



TUGAS EKOLOGI PERTANIAN
PENINGKATAN PRODUKTIFITAS BUAH PISANG (Musa sp.)





Disusun Oleh :
NAMA         : NOVITA YUNIASARI
NIM             :145040201111110
KELAS        : X


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
























PENINGKATAN PRODUKTIFITAS

BUAH PISANG (Musa sp.)


A.    Latar Belakang

Buah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak digemari oleh semua kalangan masyarakat, dari anak-anak hingga dewasa. Sebagai sumber vitamin, mineral dan serat, buah tidak diragukan lagi manfaatnya bagi kesehatan. Salah satu contohnya adalah buah  pisang yang memiliki nama latin Musa sp.
Kandungan gizi yang terdapat dalam setiap 100 g  buah pisang terdiri atas 99 kalori, protein 0,32 g, lemak 2,11 g, karbohidrat 18,50 g, serat 0,7 g, kalsium 7,5 mg, fosfor 117 mg,  besi 1,60 mg, vitamin A 44 IU, vitamin B 0,12 mg, vitamin C 17,50 mg, dan air 68,20 g.
Pisang merupakan salah satu produk buah unggulan nasional. Buah ini sangat memasyarakat karena dapat dikonsumsi kapan saja dan di segala tingkatan usia dari bayi hingga manula. Daerah penyebaran pisang cukup luas, umumnya pisang ditanam di pekarangan maupun ladang dan sebagian sudah ada dalam bentuk perkebunan. Selain diambil  buahnya, tanaman pisang juga dapat dimanfaatkan daun,  bunga, batang dan bonggolnya.Pisang juga memiliki keunggulan. Keunggulan tersebut antara lain: dapat diusahakan  pada berbagai agroekosistem yang tersebar di seluruh Indonesia, permintaan pasar yang cukup tinggi, varietas yang  beragam dan multi guna, dapat dikonsumi sebagai buah segar maupun olahan

B.     Permasalahan

Buah pisang banyak dijumpai di pasar modern, supermarket maupun pasar tradisional. Namun sering dijumpai buah pisang secara visual tidak menarik seperti kulit yang kehitaman, terdapat bintik-bintik kecoklatan, tergores maupun bonyok. Hal ini disebabkan buah pisang termasuk  bahan pangan yang mudah rusak.
Akibat masih  berlangsungnya proses respirasi walaupun buah tersebut sudah dipanen. Kondisi demikian mengakibatkan nilai jual pisang jatuh dan berimbas pada rendahnya pendapatan petani serta produktifitas buah pisang menjadi semakin menurun. Untuk itu diperlukan upaya untuk meningkatkan dan menjaga mutu  pisang agar keterjaminan mutu pisang tetap terjaga di pasar bebas.



C.    Pemeliharan Tanaman Pisang

Hasil panen buah pisang sangat tergantung oleh pemeliharaan tanaman pisang tersebut.Semakin baik dalam pemeliharaan atau perawatan tanaman pisang semakin baik pula hasil yang di dapat saat panen tiba.Oleh karena itu petani harus lebih memperhatikan lagi cara-cara pemeliharaan tanaman pisang yang baik,diantaranya :
1.     Pemangkasan, pemangkasan daun kering bertujuan untuk pencegahan penularan penyakit, mencegah daun-daun yang tua menutupi anakan dan melindungi buah dari goresan daun agar  perkembangan buah menjadi maksimal.
2.      Penyiangan dan Penggemburan Tanah, tanah disekitar pohon pisang harus dibersihkan dari rumput pengganggu/gulma, sekaligus digemburkan dengan cangkul kecil.. Kebersihan kebun di bawah tanaman pisang penting sekali, karena gulma dan sisa-sisa batang pisang yang ada dapat menjadi sarang hama penggerek batang.
3.      Penjarangan Anakan, bertujuan untuk mengurangi jumlah anakan, menjaga jarak tanam dan menjaga agar produksi tidak menurun.
4.      Perawatan Tandan, membersihkan daun sekitar tandan terutama daun yang sudah kering dan membuang buah pisang yang tidak sempurnA.

D.    Pemanenan

Tingkat ketuaan buah merupakan faktor penting pada mutu buah pisang. Buah yang dipanen kurang tua, meskipun dapat matang, namun kualitasnya kurang baik karena rasa dan aromanya kurang baik. Sebaliknya, bila buah dipanen terlalu tua, rasa manis dan aroma buah kuat, tetapi memiliki daya simpan yang pendek. Oleh karena itu tingkat ketuaan panen sangat erat kaitannya dengan jangkauan pemasaran dan tujuan  penggunaan buah.
Pemanenan pisang harus disesuaikan dengan keperluan. Pemanenan yang terlalu cepat akan mempengaruhi mutunya. Mutu pisang akan rendah meskipun daya simpannya lebih lama. Demikian sebaliknya, bila panen dilakukan terlambat maka pisang segar tidak cocok lagi diekspor karena cepat membusuk.
E.     Penanganan Pasca panen
Pembersihkan dilakukan untuk membekukan getah dan sekaligus membersihkan debu dan kotoran yang melekat pada  permukaan buah serta pistil yang sudah kering.Kemudian dilakukan Sortasi untuk memisahkan buah yang baik dan  buah yang tidak memenuhi syarat untuk dipasarkan. Tujuannya agar mendapatkan keseragaman baik berat, ukuran, warna maupun mutu buah tersebut.
Kemudian Kegiatan pengkelasan untuk membedakan mutu atau kualitas pisang yang dihasilkan dengan meiihat standar atau persyaratan pasar. Apakah buah tersebut layak di jual di supermarket,pasar tradisional atau bahkan di ekspor.Pengemasan buah pisang bertujuan untuk melindungi  buah dari kerusakan mekanis dan memudahkan penanganan selama pengangkutan untuk distribusi dan pemasaran.
Kerusakan fisik ini terjadi karena secara fisik-morfologis, produk hortikultura segar mengandung air tinggi (85-98%), sehingga benturan, gesekan dan tekanan sekecil apapun dapat menyebabkan kerusakan yang dapat langsung dilihat secara kasat mata maupun terlihat setelah beberapa hari. Kerusakan fisik ini menjadi awal masuknya mikroorganisme pembusuk dan sering menyebabkan nilai susut yang tinggi bila cara pencegahan dan  penanggulangannya tidak direncanakan dan dilakukan dengan  baik.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi perkembangan  penyakit pascapanen pisang diantaranya suhu, kelembaban dan  bahan kimia. Suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan menunda proses kematangan buah, sementara suhu tinggi akan menyebabkan mikroba terbunuh tanpa merusak  penampilan buah. Perlakuan pada suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan memperlambat kemasakan buah sehingga buah tidak dapat matang secara optimal. terjadinya kerusakan sel pada daging buah dan membuat elain itu akan menyebabkan kulit  buah berwarna kehitaman sehingga penampilan visual pisang menjadi kurang menarik.Oleh sebabt itu pengendalian OPT pasca panen sangat diperlukan agar mutu buah pisan tetap terjamin dan produktifitas buah pisang tetap stabil di pasaran.Sehingga para petani pun mendapatkan keuntungan yang optimal.
 

TANAMAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN “TRANSPIRASI”



TANAMAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN
“TRANSPIRASI”

Transpirasi ialah suatu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke atmosfer dalam bentuk uap air stomata dan kutikula ke udara bebas (evaporasi). 80% air yang ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling besar peranannya dalam transpirasi. Air diserap dari akar rerambut tumbuhan dan air itu kemudian diangkut melalui xilem ke semua bahagian tumbuhan khususnya daun. Bukan semua air digunakan dalam proses fotosintesis. Air yang berlebihan akan disingkirkan melalui proses transpirasi.Jika kadar kehilangan air melalui transpirasi melebihi kadar pengambilan air tumbuhan tersebut, pertumbuhan pokok akan terhalang. Akibat itu, mereka yang mengusahakan pernanaman secara besar – besaran mungkin mengalami kerugian yang tinggi apabila mengabaikan faktor kadar transpirasi tanaman.
Semakin cepat laju transpirasi berarti semakin cepat pengangkutan air dan zat hara terlarut, demikian pula sebaliknya. Alat untuk mengukur besarnya laju transpirasi melalui daun disebut fotometer atau transpirometer. Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui kutikula hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan. Air sebagian besar menguap melalui stomata, sekitar 80% air ditranspirasikan berjalan melewati stomata, sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi. Selain itu transpirasi juga terjadi melalui luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah dan akar.
Tidak semua tumbuhan mengalami proses transpirasi. Sedangkan pada tumbuhan yang mengalami proses ini, transpirasi terkadang terjadi secara berlebihan sehingga mengakibatkan tumbuhan kehilangan banyak air dan lama kelamaan layu sebelum akhirnya mati.
Macam-Macam Transpirasi
1.      Transpirasi Stomata
Adalah Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel ke atmosfer di luar. Sehingga dalam kondisi normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selalu jenuh uap air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air ke atmosfer pasti terjadi kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama lembab.

2.      Transpirasi Lentikuler
Lentisel adalah daerah pada kulit kayu yang berisi sel-sel yang tersusun lepas yang dikenal sebagai alat komplementer, uap air yang hilang melalui jaringan ini sebesar 0.1 % dari total transpirasi
3.      Transpirasi Kutikula
Adalah evaporasi(penguapan) air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melalui stomata.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Proses Transpirasi Tumbuhan
A.    Faktor Internal
1.      Penutupan stomata
Dengan terbukanya stomata lebih lebar, air yang hilang lebih banyak tetapi peningkatan kehilangan air lebih sedikit untuk masing-masing satuan  penambahan pelebaran stomata. Banyak faktror yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata, yang paling berpengaruh adalah tingkat cahaya dan kelembapan. Pada sebagian besar tanaman, cahaya dan kelembapan dalam daun yang rendah, sel-sel pengawal kehilangan tugornya mengakibatkan penutupan stomata.
2.      Jumlah dan ukuran stomata
Kebanyakan daun dan tanaman yang produktif mempunyai banyak stomata pada kedua sisi daunnya. Jumlah dan ukuran stomata yang dipengaruhi oleh genotip dan lingkungan.
3.      Jumlah Daun
Semakin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi.
4.      Penggulungan atau pelipatan daun
Banyak tanaman yang mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila ketersediaan air terbatas.
5.      Kedalaman dan Proliferasi Akar
Perakan yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air dan proliferasi akar meningkatkan  pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan tanaman.

B.     Faktor Eksternal
1.       Kelembaban
Pada kondisi cerah udara tidak banyak mengandung air. Pada kondisi tersebut tekanan uap di dalam daun jauh lebih tinggi dibandingkan tekanan uap di luar daun, sehingga molekul-molekul air berdifusi dari konsentrasi yang tinggi (di dalam daun) ke konsentrasi rendah (di luar daun) sehingga melancarkan transpirasi. Sebaliknya jika kondisi udara banyak mengandung awan maka kebasahan antara bumi dengan awan itu sangat tinggi. Dengan demikian maka
menghambat difusi uap air dalam sel ke lingkungan (luar daun) dengan artian menghambat transpirasi.
2.       Temperatur
Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam dan di luar daun, namun tekanan di dalam daun jauh lebih tinggi dibandingkan di luar. Akibat dari perbedaan tekanan ini maka uap air di dalam daun lebih mudah berdifusi ke lingkungan.
3.       Sinar matahari
Sinar matahari menyebabkan membukannya stomata dan gelap menyebabkan menutupnya stomata, sehingga banyak sinar berarti mempercepat laju transpirasi. Kenaikan temperatur sampai pada  batas tertentu menyebabkan melebarnya stomata dengan demikian memperbesar laju transpirasi [8]. Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara, pertama cahaya akan mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka tutupnya stomata.
4.       Kecepatan Angin
Angin akan memindahkan uap air dari permukaan daun sehingga menurunkan kelembaban,mempercepat penguapan. Bila angin kencang dan terus menerus,transpirasi berkurang akibatnya somata tertutup.
5.       Ketersediaan Air Tanah
Jika ketersediaan air tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air di dalam daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.

Hal-hal ini semua mempengaruhi kegiatan transpirasi
1.      Bentuk serta distribusi stomata
Lubang stomata yang tidak bundar melainkan oval itu ada sangkut paut dengan intensitas pengeluaran air. Juga yang letaknya satu sama lain di perantaian oleh suatu juga jarak yang tertentu itu pun mempengaruhi intensitas penguapan. Jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan maka penguapan dari lubang yang satu malah menghambat penguapan.
2.      Membuka dan menutupnya stomata
mekanisme mebuka dan menutupnya stomata berdasarkan suatu perubahan turgor itu adalah akibat dari perubahan nilai osmosis dari isi sel-sel penutup.
3.      Banyaknya stomata
pada tanaman darat umumnya stomata itu kedapatan pada permukaan daun bagian bawah. Pada beberapa tanaman permukaan atas dari daun pun mempunyai stomata juga. Temperatur berpengaruh pada membuka dan menutupnya stomata. Pada banyak tanaman stoma tidak berserdia membuka jika temperatur ada disekitar 0 derajat celcius