Minggu, 22 Februari 2015

MAKALAH ANGIN TOPAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka.
Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya angin topan di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari angin yang mengancam bangunan individual yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.
Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup
1.2  Tujuan
1.         Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh / dampak angin topan.
2.         Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi bencana angin topan.
3.         Untuk mengetahui terjadinya angin topan.
4.         Untuk mengetahui dampak dari angin topan

1.3 Rumusan Masalah
1.         Apa angin topan itu?
2.         Apa saja tanda-tanda angin topan?
4.         Bagaimana terjadinya angin topan?
5.         Apa dampak dari angin topan?
6.         Bagaimana cara mengatasi musibah angin topan?

















BAB II
ISI
2.1 Pengertian Angin Topan
Angin topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis di antara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa. Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20 Km/jam.
2.2 Tanda-Tanda Angin Topan
Angin topan dapat terjadi secara mendadak, tetapi sebagian besar badai tersebut terbentuk melalui suatu proses selama beberapa jam atau hari yang dapat dipantau melalui satelit cuaca. Monitoring dengan satelit dapat untuk mengetahui arah angin topan sehingga cukup waktu untuk memberikan peringatan dini. Meskipun demikian perubahan sistem cuaca sangat kompleks sehingga sulit dibuat prediksi secara cepat dan akurat.
Gejala awal terjadinya angin topan
a)      Suhu udara terasa meningkat
b)       awan menggumpal putih, menjulang tinggi
c)      terjadi guntur/ petir yang keras
d)     awan putih agak gelap
e)      burung-burung mengumpul atau terbang menjauhi pantai dan daerah terbuka
f)       angin terasa kencang dan panas, serta tubuh terasa tidak nyaman

2.3 Mekanisme terjadinya angin topan
Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Perbedaan suhu dan tekanan udara akan terjadi antara daerah yang menerima energi panas lebih besar dengan daerah  lain yang lebih sedikit menerima energi panas, yang berakibat akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut.
Setiap kali memasuki musim panas, datang angin topan yang menyebabkan pohon-pohon tumbang serta ombak menghancurkan rumah-rumah. Yang paling parah angin topan mampu membuat mobil-mobil bertebangan. Mengapa angin topan yang mengerikan itu bisa terjadi? Angin topan terjadi di laut di sekitar daerah katulistiwa, kira-kira pada 5 º LU. Di sana suhu air laut sangat hangat sampai melebihi 27 º C. Jika suhunya memanas, udara akan mengalir naik ke atas.
Karena udara banyak naik, maka tekanan udara di atas tinggi dan tekanan udara di bawah rendah. Udara yang naik lama-kelamaan mendingin, lalu turun, sementara udara yang menghangat naik ke atas. Proses naik turunya udara dingin dan hangat ini terjadi berulang-ulang, dan tekanan uap yang membawa energi sangat besar dan suhu udara menjadi sangat rendah, sehingga menghasilkan gumpalan udara yang berputar yang sangat membahayakan. Gumpalan udara inilah yang disebut angin topan



2.4  Dampak terhadap Lingkungan
A.    Bidang Perhubungan
Kecepatan angin sangat mempengaruhi kelancaran jalur penerbangan. Selain kecepatan angin, faktor cuaca dan iklim juga berperan dalam bidang perhubungan terutama untuk transportasi. Selain mempengaruhi kelancaran jalur penerbangan, kecepatan angin juga sangta berpengaruh pada transportasi laut.
B.     Bidang Telekomunikasi
Selain faktor iklim dan cuaca, kecepatan angin juga berpengaruh pada bidang telekomunikasi. Kecepatan angin yang merupakan akibat dari proses-proses yang terjadi di atmosfer atau lapisan udara bisa mempengaruhi lapisan ionosfer yang mengandung partikel-partikel ionisasi dan bermuatan listrik dimana dengan adanya lapisan ionosfer ini kita bisa mendengarkan siaran radio/menonton televisi.
C.    Bidang Pariwisata
Kecepatan angin, banyaknya cahaya matahari, cuaca cerah, serta udara yang sejuk/panas/kering sangat mempengaruhi pelaksanaan wisata, baik wisata darat maupun laut. Dengan cuaca dan iklim yang bersahabat serta kecepatan angin yang sedang maka pelaksanaan wisata akan semakin dinikmati
D.    Bidang Pertanian
Kecepatan angin yang ideal adalah 19-35 km/jam. Pada keadaan kecepatan angin yang tidak kencang, serangga penyerbuk bisa lebih aktif membantu terjadinya persarian bunga. Sedangkan pada keadaan kecepatan angin  kencang, kehadiran serangga penyerbuk menjadi berkurang sehingga akan berpengaruh terhadap keberhasilan penangkaran benih.
Akibat yang timbul pada bangunan:
1.      Bangunan terangkat
2.      Bangunan bergeser dari pondasinya
3.      Robohnya bangunan
4.      Atap terangkat
5.      Bangunan rusak
 2.4  Usaha Pencegahan Mengurangi Kerugian
Usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kerugian yang besar, diantaranya :
ü  Membuat struktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap gaya angin.
ü  Perlunya penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban angin khususnya di daerah yangrawan angin topan
ü  Penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada daerah yang terlindung dari serangan angin topan.
ü  Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin.
ü  Pembuatan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi orang maupun barang saat terjadi serangan angin topan.
ü  Pengamanan/perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat membahayakan diri atau orang lain disekitarnya.
ü  Kesiapsiagaan dalam menghadapi angin topan, mengetahui bagaimana cara penyelamatan diri.
ü  Pengamanan barang-barang disekitar rumah agar terikat/dibangun secara kuat sehingga tidak diterbangkan angin
ü  Untuk para nelayan, supaya menambatkan atau mengikat kuat kapal-kapalnya.







BAB III
PENUTUP

 3.1   Kesimpulan
Angin Topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam ataulebih yang sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utaradan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengankhatulistiwa.Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatusistem cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis iniumumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerahsistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20 Km/jam.Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin badai. Gejala dan Peringatan DiniAngin topan tropis dapat terjadi secara mendadak, tetapi sebagianbesar badai tersebut terbentuk melalui suatu proses selama beberapa jamatau hari yang dapat dipantau melalui satelit cuaca. Monitoring dengan satelit dapat untuk mengetahui arah angin topan sehingga cukup waktuuntuk memberikan peringatan dini. Meskipun demikian perubahan sistemcuaca sangat kompleks sehingga sulit dibuat prediksi secara cepat dan akurat.

  




DAFTAR PUSTAKA

















LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR
     

   





           

PENGENDALIAN OPT SECARA KULTUR TEKNIS,MEKANIK,FISIK DAN PERATURAN


PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

            Perlindungan tanaman adalah upaya menghindari dan atau menekan perkembangan hama agar populasinya tetap di bawah ambang ekonomi dengan metode pengendalian yang sesuai.
Mengupayakan agar populasi hama tidak menimbulkan kerugian, melalui cara-cara pengendalian yang efektif, menguntungkan, dan aman terhadap lingkungan.Serta bertujuan untuk mendapatkan rendemen ekonomi yang optimal dengan kerusakan lingkungan yang minimal.

Mekanisme pengendalian OPT :
1.      Pengendalian  secara  bercocok tanam  (kultur teknis)
          Yaitu pengendalian OPT dengan cara mengelola lingkungan/ ekossistem sedemikian rupa sehingga ekosistem tersebut  menjadi  kurang  cocok bagi kehidupan dan perkembangbiakan hama, hal ini dapat mengurangi laju peningkatan populasi & kerusakan tanaman.
Macam pengendalian secara kultur teknis :
a)      Pengolahan/pengerjaan tanah
Ditujukan terhadap hama yang dalam siklus hidup mempunyai fase di dalam tanah. Pengolahan tanah setelah panen larva-larva hama yang hidup di dalam tanah akan mati terkena alat-alat pengolahan seperti cangkul. Di samping itu akibat lain dari pengolahan tanah ini akan menaikkan larva dan telur dari dalam tanah ke permukaan tanah. Dengan demikian larva-larva dan telur larva akan dimakan burung atau mati terkena cahaya matahari langsung.
Contoh:
·         Pengeringan air sawah selama beberapa hari dapat menyebabkan larva hama putih, Nymphula depunctalis (Lepidoptera: Pyralidae) yang berada dalam gulungan daun akan mati.
·         Penggenangan sawah selama beberapa saat dapat memaksa larva ulat grayak, Spodoptera maurita (Lepidoptera: Noctuidae) berada di atas tanah pada siang hari sehingga memudahkan untuk mengumpulkannya.
b) Sanitasi
    Pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman terdahulu atau gulmanya dan pencabutan tanaman terserang. Dengan membersihkan tempat-tempat yang kemungkinan digunakan oleh serangga untuk berkembang biak, berlindung, berdiapause, maka perkembangan serangga yang menjadi hama tanaman dapat dicegah.

contoh :
·         Membersihkan tunggul-tunggul jerami segera setelah panen atau memotong tunggul tersebut persis di permukaan tanah dapat mengurangi populasi penggerek batang padi putih, Scirpophaga innotata (Lepidoptera, Pyralidae) pada masa berikutnya. Bisaanya penggerek batang padi putih berdiapause selama musim kemarau pada tunggul-tunggul jerami tersebut.
·         Walang sangit, Leptocorisa acuta (Lepidoptera, Alydidae) akan lebih cepat berkembang apabila sanitasi lingkungan kurang baik.

c) Pemupukan
    Penggunaan pupuk menjadikan tanaman sehat dan lebih mudah mentoleransi serangga hama tanaman.Pemupukan yang berimbang dengan kebutuhan tanaman antara N, P, K dan unsur-unsur mikro → tanaman sehat → tahan serangan hama.
contoh : Untuk mengendalikan hama putih palsu, Cnaphalocrosis medinalis (Lepidoptera: Pyralidae) dan hama ganjur Orseolia oryzae (Diptera: Cecidomyiidae) pada tanaman padi di antaranya adalah dengan mengurangi dosis pupuk nitrogen atau melakukan pemupukan yang seimbang antara nitrogen, pospat, dan kalium.

d) Tanam serempak
    Harus dilaksanakan di areal yang cukup luas, minimal satu hamparan dengan golongan air yang sama,karena untuk membatasi perkembangbiakan serangga hama. Penanaman serentak dimaksudkan agar ketersediaan bahan makanan untuk hama menjadi lebih singkat dan pada suatu saat pertanaman tidak ada populasi hama dan populasi hama dapat dihambat.

e) Rotasi/pergiliran tanaman
Menanam tanaman yang berbeda-beda jenisnya dalam satu tahun dapat memutus atau memotong daur hidup hama terutama hama yang sifatnya monofagus (satu jenis makanan).Tujuannya adalah untuk memutuskan siklus hidup hama tertentu. Caranya jangan menanam spesies tanaman yang menjadi inang dari hama tertentu.
Contoh:
Wereng coklat, Nilavarpata lugens (Homoptera: Delphacidae) hanya dapat hidup dengan baik pada tanaman padi. Jadi, untuk memutus siklus hidupnya dapat dilakukan pergiliran tanaman bukan padi, atau sawah dibiarkan bebas satu sampai dua bulan setiap tahunnya.
Padi --) Kacang-kacangan --) Padi
Hama pada padi bukan hama pada kacang-kacangan.

f) Tanaman perangkap
adalah tanaman yang sengaja ditanam untuk menarik dan memusatkan hama pada tanaman tersebut untuk kemudian dikendalikan dengan pestisida.
Contoh :
·         kacang hijau dan jagung yang di tanam diantara tanaman kapas dapat mengurangi populasi Sundapteryx dan Heliothis sp. Pada tanaman kapas.
·         Tanaman jagung dipergunakan sebagai tanaman perangkap untuk mengendalikan serangga hama penggerek kuncup dan buah kapas, Helicoperva (Heliothis) armigera (Lepidoptera: Noctuidae). Rambut tongkol jagung sangat menarik ngengat serangga tersebut untuk meletakkan telurnya, sehingga sebagian besar populasi serangga hama tersebut akan berada pada pertanaman jagung. Jagung ditanam dua baris diantara 12 baris tanaman kapas yang berjarak 50×50 cm. Agar cara tersebut berhasil, maka sewaktu tanaman kapas berbunga sampai mulai berbuah, tanaman jagung telah keluar tongkolnya. Setelah serangga hama ini berkumpul pada tanaman jagung (tanaman perangkap), segera dibabat agar serangga hama ini tidak kembali lagi ke tanaman kapas (tanaman utama). Dilaporkan teknik ini dapat mengurangi kerusakan buah kapas sampai 35% pada umur 75 hari setelah tanam.
g). Pengaturan Jarak Tanam
    Jarak tanam sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan juga terhadap populasi hama per unit waktu. Serta berpengaruh terhadap perilaku hama dalam mencari makan dan tempat bertelur. Hasil penelitian di IRRI terlihat bahwa jarak tanam padi yang lebar sangat menurunkan populasi wereng coklat (Nilaparvata lugens )

2.      Pengendalian secara Fisik
Yaitu pengendalian dengan cara mengubah faktor  lingkungan fisik sehingga dapat menimbulkan kematian pada OPT & mengurangi  populasinya. Pengendalian secara fisik dilakukan dengan memanfaatkan faktor lingkungan fisik sedemikian rupa seperti suhu, kelembaban, dan cahaya untuk mempengaruhi dan membunuh serangga hama. Perkembangan serangga dipengaruhi oleh faktor fisik tertentu, seperti suhu lingkungan. Suhu ini akan mempengaruhi proses fisiologis yang menyangkut aktivitas enzim, maupun proses metabolisme dalam tubuh serangga. Oleh karena itu, jika keadaan suhu lingkungan berada di luar batas toleransi serangga hama, maka serangga hama tersebut akan mati. Demikian juga halnya dengan pengaruh faktor fisik lainnya, seperti kelembaban


Faktor-Faktor pengendalian secara fisik :
a.       Suhu (temperatur)
Dapat digunakan suhu tinggi atau rendah. Misal Perlakuan dengan panas yang paling berhasil apabila dilakukan pada ruang tertutup. Seperti di gudang penyimpanan untuk mematikan hama gudang ( misal kutu beras ). Pemanasan dengan suhu tinggi > 450C dan Pendinginan dengan suhu rendah < 50C
contoh : pemanasan atau pendinginan utuk mengendalikan serangga hama dalam produk simpanan (hama gudang misal kutu beras )
b.      Kelembaban
Kelembaban relatif diantara tanaman dapat juga diatur dengan mengatur jarak tanam dari pohon pelindung/ peneduh
contoh : pengurangan tanaman pelindung pada kakao sehingga cahaya dapat masuk dengan mudah untuk mencegah perkembangan hama Helopeltris sp.
c.       Cahaya
Serangga fototropik positif (tertarik cahaya), fototropik negatif (menghindari cahaya); Penggunaan lampu perangkap untuk menangkap serangga fototropik positif.misal : Kutu daun tertarik dengan warna kuning.

3.      Pengendalian secara Mekanik
Yaitu tindakan yg dilakukan untuk mematikan / memindahkan OPT secara langsung atau melibatkan tenaga manusia.
Bentuk pengendalian secara mekanik     :
1)      Pengambilan secara langsung atau dengan tangan
Adalah teknik yang paling sederhana dan murah tentunya untuk daerah yang banyak tersedia tenaga manusia. Yang dikumpulkan adalah fase hidup hama yang mudah ditemukan atau bagian-bagian tanaman yang terserang. Misal mengambil telur, larva, atau pupa yang berada pada tanaman    yang terserang.

2)      Penggunaan Perangkap (Trapping)
Serangga hama diperangkap dengan berbagai jenis perangkap yang dibuat sesuai dengan jenis serangga hama dan fase hama yang akan ditangkap. Ada juga perangkap yang menggunakan zat kimia sebagai penarik (atraktan) atau sebagai cairan pembunuh serangga. Alat perangkap dibuat sedemikian rupa untuk menarik, meletakkan/membunuh hama.misal : perangkap lalat buah, Bactrocera spp. (Diptera: Tephritidae) diberi zat penarik yang berupa feromon atraktan “metileugenol”. Senyawa ini memiliki aroma khas yang bersifat sebagai pemikat yang sangat kuat terhadap lalat buah jantan. Setelah lalat buah jantan terkumpul, kemudian dibinasakan atau metileugenol tersebut dicampur dengan insektisida kontak sehingga dapat langsung membunuh lalat jantan yang menyentuhnya.

3)      Pengusiran (Driving)
Mengusir hama yang sedang berada di pertanaman /yg sedang menuju ke pertanaman.

4)      Gropyokan
mengendalikan hama tikus dengan cara membunuh tikus, yang sedang berada diliang maupun yang sedang berada di luar sarang.

5)      Rogesan      
sering dipraktekkan oleh petani tebu (di Jawa) untuk mencari ulat penggerek pucuk tebu (Scirpophaga nivella) dengan mengiris sedikit demi sedikit pucuk tebu yang menunjukkan tanda serangan.

6)      Lelesan
dilakukan oleh petani kopi untuk menyortir buah kopi dari lapangan yang terserang oleh bubuk kopi (Hypotheneemus hampei)

4.      Pengendalian secara Aturan
adalah usaha manusia untuk mencegah pemasukan dan penyebaran hama dengan menggunakan peraturan (Undang-undang).
Di Indonesia pertama kali tgl. 19 Desember 1877 (Lembaran Negara 262, 1877), yang melarang pemasukan tanaman dan biji kopi dari Sri Lanka untuk mencegah penyakit karat daun Kopi (Hemileia vastatrix)
Sekarang, diperbarui dengan UU no. 16 th. 1992 tentang Karantina hewan, ikan, dan tumbuh-tumbuhan.Di Indonesia Karantina Tumbuhan termasuk ke dalam Karantina Pertanian, yang terdiri dari Karantina Luar Negeri (Foreign atau External Quarantine) dan Karantina Dalam Negeri (Domestic Quarantine).
Ada 2 macam peraturan :
                                larangan ( prohibitive )
                                 pembatasan ( restrictive )

Mekanisme Pengendalian secara Peraturan
  Peraturan-peraturan pemerintah yang berkaitan dengan perlindungan Tanaman
A.    Karantina pertanian : institusi yang mengawasi lalu lintas manusia, hewan, dan tumbuhan antar daerah/ pulau/negara, melalui tindakan perlakuan pestisida, pelarangan masuk, dan pemusnahan/eradikasi bahan atau jasad berbahaya.
Tujuan karantina tumbuhan adalah mencegah pemasukan dan penyebaran Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) ke suatu negara atau daerah yang masih bebas dari OPT tersebut.
B. Sertifikasi:  Keterangan yang membuktikan bahwa suatu jasad sehat, dapat dikeluarkan/dimasukkan dari dan ke daerah atau negara